Rupiah Masih Tertekan, Ekonom Nilai Dolar AS Sulit Tembus Rp18.000

JAKARTA, 9 Mei 2026 — Nilai tukar rupiah kembali melemah pada pembukaan perdagangan akhir pekan di tengah tingginya ketidakpastian global dan meningkatnya kebutuhan valuta asing domestik. Meski demikian, sejumlah ekonom menilai tekanan terhadap rupiah masih relatif terkendali dan peluang dolar Amerika Serikat menembus level Rp18.000 masih kecil.

Berdasarkan data Refinitiv pada Jumat (8/5/2026), rupiah dibuka melemah tipis 0,06 persen ke posisi Rp17.340 per dolar AS. Pelemahan tersebut terjadi setelah sehari sebelumnya rupiah sempat ditutup menguat di level Rp17.330 per dolar AS.

Kepala Riset Ekonomi Makro dan Pasar Permata Bank, Faisal Rachman, menjelaskan pelemahan rupiah saat ini dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan faktor musiman domestik.

“Pada Q2 2026 memang ada pola musiman pembayaran return aset keuangan domestik ke non residen yang mengakibatkan pelemahan rupiah,” ujar Faisal.

Menurut dia, tekanan terhadap rupiah juga berasal dari meningkatnya sentimen risk-off di pasar keuangan global akibat ketidakpastian ekonomi dan geopolitik dunia. Kondisi tersebut mendorong investor cenderung menempatkan dana pada aset aman berbasis dolar AS.

Meski demikian, Faisal menilai depresiasi rupiah masih berada dalam batas terkendali.

“Tekanan depresiasi kemungkinan besar akan berlanjut, tapi rasanya rupiah masih akan mampu bertahan di bawah Rp18.000,” katanya.

Pandangan serupa disampaikan Ekonom Global Markets Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto. Ia menilai ruang pelemahan rupiah semakin terbatas karena arus keluar modal asing (capital outflow) dari pasar domestik tidak lagi sebesar awal tahun.

“Kalaupun ada capital outflow di pasar saham ataupun pasar surat utang negara, dampaknya tidak sebesar pada periode Januari, Februari ataupun Maret,” ujar Myrdal.

Ia menambahkan, investor asing masih menunjukkan minat terhadap Surat Utang Negara (SUN), terutama ketika imbal hasil obligasi pemerintah mendekati asumsi APBN sebesar 6,9 persen.

“Di saat yield mendekati asumsi yield APBN kita 6,9 persen, investor asing itu langsung masuk,” ujarnya.

Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, sebelumnya menjelaskan tekanan terhadap rupiah lebih banyak dipicu faktor global, termasuk kenaikan tensi geopolitik internasional, penguatan indeks dolar AS (DXY), serta tingginya suku bunga Amerika Serikat.

“Kebetulan secara musiman April-Mei itu permintaan valas tinggi untuk masyarakat umrah-haji, repatriasi dividen, dan pembayaran utang luar negeri,” kata Perry dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).

Menurut Perry, Bank Indonesia terus melakukan langkah stabilisasi melalui intervensi di pasar valuta asing maupun pasar surat utang guna menjaga kestabilan nilai tukar rupiah.

Secara historis, tekanan terhadap rupiah biasanya meningkat pada kuartal kedua seiring tingginya kebutuhan dolar AS untuk pembayaran dividen perusahaan, impor, serta kebutuhan perjalanan ibadah haji dan umrah. Kondisi tersebut sering diperparah ketika terjadi gejolak ekonomi global atau penguatan mata uang dolar AS secara luas.

Dari sisi dampak ekonomi, pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya impor bahan baku dan energi sehingga dapat memicu tekanan inflasi domestik. Namun di sisi lain, pelemahan rupiah juga dapat memberikan keuntungan bagi sektor ekspor karena produk Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar internasional.

Ke depan, pemerintah dan Bank Indonesia menyatakan akan terus memperkuat koordinasi kebijakan fiskal dan moneter guna menjaga stabilitas pasar keuangan, mengendalikan volatilitas rupiah, serta memastikan pertumbuhan ekonomi nasional tetap terjaga di tengah dinamika global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *