Mengenal Hantavirus: Gejala Mirip Flu, Bisa Sebabkan Gangguan Paru dan Ginjal

JAKARTA, 9 Mei 2026 — Kasus hantavirus kembali menjadi perhatian dunia setelah muncul laporan infeksi di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar di kawasan Amerika Selatan. Penyakit langka yang dibawa hewan pengerat itu menjadi sorotan karena dapat berkembang cepat dan berisiko menyebabkan gangguan pernapasan berat hingga kematian.

Laporan yang dikutip dari media internasional menyebutkan seorang pria asal Belanda berusia 70 tahun meninggal dunia setelah mengalami demam, sakit kepala, nyeri perut, dan diare saat berada di kapal pesiar tersebut. Selain itu, dua warga Singapura juga sempat diisolasi karena memiliki riwayat perjalanan yang berkaitan dengan kasus terkonfirmasi hantavirus.

Menurut Mayo Clinic, hantavirus merupakan penyakit langka yang umumnya ditemukan di wilayah Amerika Utara dan Amerika Selatan. Virus ini ditularkan melalui paparan urine, kotoran, air liur, atau sarang tikus yang terinfeksi.

Penularan paling sering terjadi ketika seseorang menghirup partikel virus di udara, terutama saat membersihkan ruangan tertutup, gudang, atau area yang lama tidak digunakan dan dipenuhi tikus. Selain itu, virus juga dapat menyebar melalui makanan yang terkontaminasi maupun kontak tangan dengan permukaan yang terkena virus lalu menyentuh area wajah tanpa mencuci tangan.

Meski demikian, penularan antar manusia disebut sangat jarang terjadi. Hingga saat ini, kasus transmisi langsung antar manusia hanya pernah dilaporkan pada jenis Andes virus di Amerika Selatan.

Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia, Piprim Basarah Yanuarso, meminta masyarakat tidak panik menyikapi isu hantavirus karena karakter penularannya berbeda dengan COVID-19.

“Sebagai masyarakat, sebagai orang tua, jangan panik dulu karena belum tentu juga apa yang terjadi itu bisa menularnya seperti COVID-19,” ujar Piprim dalam diskusi daring di Jakarta, Jumat (8/5/2026).

Ia menjelaskan virus hanta berasal dari hewan pengerat seperti tikus dan penularannya lebih banyak terjadi melalui lingkungan yang tercemar. Karena itu, penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dinilai menjadi langkah utama pencegahan.

“Jadi memang kuncinya ada di perilaku hidup bersih dan sehat. Rajin cuci tangan, higienis dan sanitasi,” katanya.

Gejala hantavirus umumnya mulai muncul dua hingga tiga minggu setelah seseorang terinfeksi. Pada tahap awal, penderita biasanya mengalami demam mendadak, menggigil, nyeri otot, sakit kepala, mual, muntah, diare, dan sakit perut. Gejala tersebut sering menyerupai flu biasa sehingga kerap terlambat dikenali.

Namun ketika kondisi memburuk, penderita dapat mengalami batuk, sesak napas, tekanan darah rendah, hingga gangguan irama jantung akibat penumpukan cairan di paru-paru. Pada beberapa kasus, hantavirus juga dapat menyerang ginjal dan menyebabkan gangguan fungsi organ.

Pakar infeksi penyakit tropik IDAI, Dominicus Husada, mengatakan Indonesia hingga kini belum pernah melaporkan penyebaran Andes virus seperti yang ramai dikaitkan dengan kasus kapal pesiar MV Hondius.

“Tetap kuncinya adalah menjaga kebersihan masing-masing melalui perilaku hidup bersih dan sehat. Tidak ada keraguan-keraguan dalam kondisi apa pun, terhadap penyakit apa pun,” ujarnya.

Hingga saat ini belum tersedia obat khusus maupun vaksin untuk menyembuhkan hantavirus. Penanganan medis lebih difokuskan pada terapi pendukung seperti pemberian oksigen, cairan, bantuan ventilator, hingga dialisis bila terjadi gangguan ginjal berat.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan Republik Indonesia juga telah meningkatkan kewaspadaan menyusul merebaknya kasus di luar negeri. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sebelumnya menyatakan pemerintah telah berkoordinasi dengan World Health Organization untuk memperoleh pedoman deteksi dini dan penanganan hantavirus.

Selain itu, pengawasan di pintu masuk negara seperti bandara dan pelabuhan juga mulai diperketat untuk mengantisipasi potensi masuknya virus ke Indonesia. Pemerintah turut menyiapkan kapasitas pemeriksaan laboratorium PCR sebagai langkah antisipasi apabila ditemukan kasus suspek di dalam negeri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *