Bulog Pastikan Stok Beras 5,23 Juta Ton Aman hingga 2027, Pemerintah Perkuat Ketahanan Pangan Nasional

JAKARTA, 8 Mei 2026 — Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani memastikan cadangan beras pemerintah yang dikelola Bulog telah mencapai 5,23 juta ton dan dinilai cukup untuk menjaga ketahanan pangan nasional hingga tahun depan. Pernyataan itu disampaikan di Jakarta, Kamis (8/5/2026), sebagai respons pemerintah menghadapi potensi gangguan pasokan pangan global serta ancaman perubahan iklim.

Rizal mengatakan stok beras tersebut merupakan hasil penyerapan gabah petani secara masif sepanjang musim panen 2026. Menurut dia, pemerintah terus memperkuat cadangan pangan nasional guna menjaga stabilitas harga sekaligus mengantisipasi risiko kekeringan akibat fenomena El Nino.

“Untuk seluruh Indonesia stok Bulog itu sekarang sudah mencapai 5,23 juta ton. Dan ini bisa untuk ketahanan pangan kita sampai tahun depan,” kata Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani.

Ia menegaskan, pemerintah berupaya menjaga keseimbangan antara perlindungan petani dan keterjangkauan harga beras bagi masyarakat. Karena itu, penyerapan gabah dilakukan secara optimal melalui kerja sama lintas kementerian dan lembaga.

“Kami terus menyerap hasil panen petani agar stok nasional aman sekaligus harga di tingkat petani tetap terjaga,” ujarnya.

Selain memastikan ketersediaan stok, Bulog juga membuka akses kunjungan ke gudang penyimpanan beras sebagai bagian dari transparansi pengelolaan cadangan pangan pemerintah. Langkah tersebut dilakukan agar masyarakat dapat melihat langsung kondisi stok pangan nasional.

Rizal menyebut keterbukaan informasi menjadi penting di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap isu pangan dan inflasi. Pemerintah ingin memastikan distribusi serta pengelolaan beras berjalan akuntabel dan tepat sasaran.

Secara historis, penguatan cadangan beras pemerintah menjadi salah satu strategi utama Indonesia dalam menghadapi gejolak pangan global, terutama sejak pandemi Covid-19 dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik internasional yang memicu fluktuasi harga pangan dunia. Selain itu, perubahan iklim dan ancaman El Nino dalam beberapa tahun terakhir turut meningkatkan risiko penurunan produksi pertanian di berbagai negara.

Data Bulog menunjukkan hingga awal Mei 2026, penyerapan gabah petani telah mencapai sekitar 2,4 juta ton setara beras. Angka tersebut menjadi bagian dari target nasional penyerapan 4 juta ton sepanjang tahun ini untuk memperkuat cadangan beras pemerintah (CBP).

Dari sisi dampak kebijakan, penguatan stok beras dinilai dapat membantu menjaga stabilitas harga pangan nasional dan mengurangi risiko lonjakan harga di tingkat konsumen. Bagi petani, penyerapan gabah dalam jumlah besar juga memberi kepastian pasar dan membantu menjaga harga jual saat musim panen raya.

Sementara bagi masyarakat, ketersediaan stok yang memadai diharapkan mampu menekan risiko inflasi pangan dan menjaga daya beli, terutama di tengah tekanan ekonomi global dan fluktuasi harga energi internasional.

Ke depan, pemerintah akan terus memperkuat distribusi cadangan pangan nasional, meningkatkan kapasitas gudang penyimpanan, serta mempercepat penyerapan gabah petani di berbagai daerah sentra produksi guna memastikan ketahanan pangan nasional tetap terjaga sepanjang 2026 hingga 2027.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *