JAKARTA — Prajurit Kepala (Praka) Rico Pramudia, anggota Satgas Yonmek XXIII-S Konga dalam misi perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL), dinyatakan gugur pada Jumat (24/4/2026) di Rumah Sakit St. George, Beirut, Lebanon, setelah menjalani perawatan intensif hampir satu bulan akibat luka berat yang dideritanya pascaserangan di pos penugasan di Lebanon Selatan.
Markas Besar Tentara Nasional Indonesia melalui Pusat Penerangan TNI menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya prajurit tersebut. Kepala Pusat Penerangan TNI, Mayor Jenderal TNI Aulia Dwi Nasrullah, menyatakan bahwa almarhum mengembuskan napas terakhir pada pukul 10.32 waktu setempat atau 14.32 WIB setelah sebelumnya berada dalam kondisi kritis. “Gugurnya beliau adalah kehilangan besar,” ujar Aulia dalam keterangan resmi.
Mabes TNI menegaskan bahwa dedikasi dan keberanian Praka Rico selama menjalankan tugas perdamaian internasional menjadi teladan bagi seluruh prajurit. “Pengabdian, keberanian, dan dedikasi almarhum menjadi teladan bagi seluruh prajurit dan bangsa Indonesia,” demikian pernyataan resmi Mabes TNI.
Serangan yang menyebabkan luka fatal terjadi ketika artileri menghantam pos kontingen Indonesia di wilayah Adshit al-Qusyar, Lebanon Selatan. Insiden tersebut merupakan bagian dari eskalasi konflik di wilayah penugasan UNIFIL yang sebelumnya juga menimbulkan korban dari pihak TNI.
Secara historis, Indonesia telah berpartisipasi aktif dalam misi perdamaian PBB sejak 1957 dan menjadi salah satu kontributor terbesar pasukan penjaga perdamaian dunia. Dalam konteks UNIFIL, personel TNI bertugas menjaga stabilitas di perbatasan Lebanon-Israel yang kerap mengalami ketegangan bersenjata. Data resmi menunjukkan, dengan wafatnya Praka Rico, jumlah prajurit TNI yang gugur dalam dua insiden terpisah di Lebanon Selatan bertambah menjadi empat orang, yakni Mayor Inf (Anumerta) Zulmi Aditya Iskandar, Serka (Anumerta) Muhammad Nur Ichwan, Kopda (Anumerta) Farizal Rhomadhon, dan Praka Rico Pramudia.
Peristiwa ini berpotensi memengaruhi persepsi publik terhadap risiko keterlibatan Indonesia dalam misi perdamaian internasional. Di sisi lain, pengorbanan prajurit juga memperkuat citra Indonesia sebagai negara yang konsisten berkontribusi dalam menjaga perdamaian dunia. Bagi keluarga prajurit dan institusi militer, insiden ini menjadi pengingat akan tingginya risiko dalam operasi di wilayah konflik aktif.
Pemerintah melalui Mabes TNI menyatakan akan terus berkoordinasi dengan pihak PBB untuk menyelidiki insiden tersebut serta memastikan perlindungan maksimal bagi personel yang masih bertugas. Selain itu, proses pemulangan jenazah dan pemberian penghormatan militer direncanakan dilakukan dalam waktu dekat, disertai evaluasi menyeluruh terhadap prosedur keamanan dalam misi perdamaian ke depan.
