Jakarta – Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia Sufmi Dasco Ahmad menilai penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dan kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencerminkan meningkatnya kepercayaan masyarakat serta pelaku pasar terhadap pemerintah. Pernyataan tersebut disampaikan menyusul tren positif pasar keuangan domestik yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir di tengah dinamika ekonomi global yang masih berlangsung.
Menurut Sufmi Dasco Ahmad, pergerakan positif pada nilai tukar rupiah dan IHSG tidak terlepas dari respons pasar terhadap berbagai kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Ia menyebut kepercayaan yang meningkat dari investor maupun masyarakat menjadi salah satu faktor yang turut mendorong penguatan indikator ekonomi tersebut.
“Kepercayaan terhadap pemerintah juga semakin kuat sehingga itu juga berpengaruh terhadap pasar dan penguatan nilai tukar rupiah,” ujar Sufmi Dasco Ahmad kepada wartawan.
Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut menunjukkan optimisme pasar terhadap arah kebijakan pemerintah ke depan. Menurutnya, stabilitas politik dan ekonomi yang terjaga menjadi modal penting dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
“Tanda-tanda penguatan ekonomi mulai terlihat dan harus terus dijaga bersama agar memberikan manfaat bagi masyarakat luas,” kata Dasco.
Dalam beberapa pekan terakhir, rupiah tercatat mengalami penguatan terhadap dolar Amerika Serikat seiring membaiknya sentimen pasar domestik dan meningkatnya arus investasi. Pada saat yang sama, IHSG juga menunjukkan tren penguatan yang mencerminkan meningkatnya aktivitas dan kepercayaan investor di pasar modal Indonesia. Kondisi tersebut terjadi di tengah berbagai tantangan ekonomi global, termasuk ketidakpastian geopolitik, fluktuasi harga energi, dan perubahan kebijakan moneter sejumlah negara maju.
Secara historis, nilai tukar rupiah dan pergerakan IHSG kerap dijadikan indikator untuk mengukur tingkat kepercayaan pasar terhadap kondisi ekonomi suatu negara. Penguatan kedua instrumen tersebut umumnya mencerminkan persepsi positif investor terhadap stabilitas ekonomi, prospek pertumbuhan, serta efektivitas kebijakan pemerintah dalam menjaga fundamental ekonomi nasional.
Dari sisi masyarakat, penguatan rupiah berpotensi memberikan dampak positif terhadap biaya impor bahan baku dan barang konsumsi yang selama ini dipengaruhi nilai tukar mata uang asing. Sementara itu, kenaikan IHSG dapat meningkatkan kepercayaan pelaku usaha dan investor dalam mengembangkan kegiatan ekonomi, yang pada akhirnya berpotensi menciptakan lapangan kerja serta mendorong pertumbuhan sektor produktif. Namun demikian, para pelaku pasar tetap mencermati perkembangan ekonomi global yang dapat memengaruhi stabilitas pasar keuangan nasional.
Pemerintah bersama otoritas terkait menyatakan akan terus menjaga stabilitas makroekonomi melalui koordinasi kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan. Langkah tersebut dilakukan untuk mempertahankan momentum penguatan ekonomi nasional sekaligus memastikan manfaat pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat.
