Langkah Strategis BI dan China Perkuat Rupiah, Kurangi Ketergantungan pada Dolar AS

JAKARTA – Upaya memperkuat ketahanan ekonomi nasional dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terus dilakukan pemerintah bersama Bank Indonesia (BI). Salah satu langkah strategis terbaru diwujudkan melalui kerja sama Bilateral Currency Swap Arrangement (BCSA) antara Bank Indonesia dan People’s Bank of China (PBOC) yang ditandatangani di Shanghai, China.

Kesepakatan tersebut mendapat apresiasi dari Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad yang menilai kerja sama tersebut sebagai terobosan penting dalam memperkuat posisi rupiah sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap dolar Amerika Serikat dalam transaksi perdagangan internasional.

Menurut Dasco, kerja sama tersebut diperkuat dengan perluasan skema Local Currency Transaction (LCT) yang kini mencakup wilayah Hong Kong. Dengan mekanisme ini, transaksi perdagangan dan investasi antara Indonesia, China Daratan, dan Hong Kong dapat dilakukan langsung menggunakan rupiah maupun renminbi tanpa harus melalui dolar AS.

“Ini merupakan langkah strategis yang sangat penting untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional dan mengurangi kebutuhan penggunaan dolar AS dalam transaksi perdagangan internasional,” ujar Dasco.

Selain kerja sama mata uang lokal, Indonesia dan China juga memperluas implementasi sistem pembayaran digital lintas negara melalui QRIS. Saat ini, sebanyak 191 penyedia layanan pembayaran di China dan 24 penyedia layanan di Indonesia telah terhubung dalam ekosistem transaksi digital tersebut.

Kehadiran QRIS lintas negara diyakini akan mempermudah aktivitas perdagangan, investasi, pariwisata, serta transaksi bisnis antara pelaku usaha kedua negara. Sistem ini sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu negara yang terdepan dalam pengembangan sistem pembayaran digital kawasan.

Nilai perdagangan Indonesia-China yang mencapai sekitar US$154,5 miliar pada tahun 2025 menunjukkan betapa pentingnya kerja sama tersebut bagi perekonomian nasional. Dengan penggunaan mata uang lokal yang lebih luas, biaya transaksi dapat ditekan, risiko fluktuasi dolar dapat dikurangi, dan stabilitas perdagangan menjadi lebih terjaga.

Langkah Bank Indonesia ini juga dinilai sejalan dengan strategi pemerintah dalam memperkuat kedaulatan ekonomi nasional di tengah dinamika ekonomi global. Diversifikasi penggunaan mata uang internasional menjadi instrumen penting untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus memperkuat daya tahan ekonomi Indonesia terhadap gejolak eksternal.

Di tengah berbagai tantangan global, kebijakan yang mendorong penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan internasional menunjukkan komitmen pemerintah dan Bank Indonesia dalam membangun fondasi ekonomi yang lebih mandiri, kuat, dan berdaya saing.

Kerja sama strategis dengan China dan Hong Kong ini menjadi bukti bahwa Indonesia terus memperluas jejaring ekonomi internasional dengan tetap mengedepankan kepentingan nasional, memperkuat posisi rupiah, serta membuka peluang pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *