ESDM Uji Coba CNG 3 Kg Pengganti LPG Subsidi, Diklaim Tak Perlu Ganti Kompor

JAKARTA, 8 Mei 2026 — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah menyiapkan tabung compressed natural gas (CNG) 3 kilogram sebagai alternatif pengganti LPG 3 kg untuk kebutuhan rumah tangga. Program tersebut saat ini memasuki tahap uji coba dan ditargetkan rampung dalam dua hingga tiga bulan ke depan sebelum diterapkan secara luas kepada masyarakat. Pemerintah menyebut penggunaan CNG nantinya tidak memerlukan penggantian kompor LPG yang sudah ada, meski sejumlah pengamat menilai tetap dibutuhkan perangkat dan sistem keamanan khusus karena tekanan gas yang jauh lebih tinggi dibanding LPG.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan tabung CNG yang sedang dikembangkan menggunakan teknologi komposit serat tipe 4 berbahan polymer, carbon fiber, dan fiberglass. Menurut dia, pengembangan tersebut sudah memasuki tahap implementasi, bukan lagi sekadar kajian.

“Ini bukan di tahap kajian ya, ini sudah di tahap implementasi. Dalam waktu tiga bulan ke depan sudah ada tipe 4 untuk 3 kg dan dari situ nanti kita mulai memproduksi dalam jumlah yang lebih masif,” kata Laode dalam diskusi publik di Jakarta Selatan, Selasa (5/5/2026).

Laode menyebut masyarakat nantinya tidak perlu mengganti kompor rumah tangga apabila program konversi CNG 3 kg diterapkan. Ia memastikan tabung CNG tersebut dapat langsung digunakan pada kompor LPG yang selama ini dipakai masyarakat tanpa tambahan converter atau alat khusus lainnya.

“Dan apinya lebih panas juga, apinya tetap lebih biru malah kalau saya perhatikan seperti itu,” ujar Laode.

Meski demikian, Ketua Komite Investasi Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas (Aspermigas) Moshe Rizal menilai implementasi CNG rumah tangga masih menghadapi sejumlah tantangan teknis dan aspek keamanan. Menurut dia, tekanan CNG yang mencapai 200 hingga 250 bar membuat tabung harus menggunakan material lebih tebal dan berukuran lebih besar dibanding tabung LPG konvensional.

“Tekanan CNG mencapai 200 sampai 250 bar, hampir 20 kali lebih tinggi dari LPG. Itu sebabnya tabungnya akan lebih besar,” kata Moshe.

Ia juga menilai karakteristik pembakaran CNG berbeda dengan LPG sehingga kemungkinan tetap membutuhkan kompor khusus serta area penyimpanan tersendiri demi menjaga keamanan penggunaan di rumah tangga.

Pengembangan CNG 3 kg merupakan bagian dari upaya pemerintah mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG subsidi yang selama ini terus membebani anggaran negara. Pemerintah sebelumnya juga menyebut program konversi energi tersebut berpotensi menghemat devisa hingga ratusan triliun rupiah apabila diterapkan secara nasional.

Saat ini penggunaan CNG sebenarnya telah diterapkan di sejumlah sektor industri seperti hotel, restoran, hingga dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun penggunaan tersebut umumnya memakai tabung berkapasitas 10 kilogram hingga 20 kilogram, sementara versi 3 kilogram masih dalam tahap pengembangan karena tekanan gas yang jauh lebih tinggi.

Dari sisi masyarakat, kebijakan konversi ini berpotensi memberikan alternatif energi yang lebih efisien dan mengurangi ketergantungan pada LPG impor. Namun tantangan terkait ukuran tabung, sistem keamanan, hingga kesiapan infrastruktur distribusi dinilai menjadi faktor penting yang harus dipastikan pemerintah sebelum implementasi dilakukan secara luas.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah masih menunggu hasil uji coba sebelum memutuskan pelaksanaan program konversi CNG 3 kilogram untuk rumah tangga.

“Nah, untuk yang 3 kilo memang tabungnya masih dilakukan uji coba karena tekanannya kan besar sekali, dia sekitar 200 sampai 250 bar,” kata Bahlil.

Pemerintah menargetkan evaluasi hasil uji coba selesai dalam dua hingga tiga bulan mendatang sebelum memasuki tahap produksi massal dan distribusi kepada masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *