JAKARTA — PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) mendorong pengembangan hilirisasi kelapa sawit rakyat berbasis koperasi sebagai strategi memperkuat ekonomi kerakyatan dan meningkatkan nilai tambah industri sawit nasional. Kebijakan ini disampaikan dalam keterangan resmi perusahaan pada April 2026, seiring upaya pemerintah mengoptimalkan pemanfaatan lahan negara hasil penertiban kawasan hutan.
Direktur Utama Mohammad Abdul Ghani menegaskan bahwa hilirisasi menjadi langkah penting agar petani tidak hanya berperan sebagai produsen bahan mentah. “Lahan-lahan yang telah kembali ke negara harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Salah satunya melalui hilirisasi sawit berbasis koperasi agar petani tidak hanya menjadi produsen bahan mentah, tetapi juga pelaku utama dalam rantai nilai industri,” ujarnya.
Ia menambahkan, selama ini posisi Indonesia masih dominan di sektor produksi, namun belum optimal dalam penguasaan nilai tambah. “Selama ini kita kuat di produksi, tetapi belum optimal dalam pengendalian harga dan nilai tambah. Hilirisasi berbasis koperasi adalah jalan untuk memperbaiki struktur tersebut,” kata Abdul Ghani.
Konsep yang diusung menempatkan koperasi sebagai aktor utama dalam pengelolaan sawit rakyat, mulai dari produksi hingga pengolahan awal seperti crude palm oil (CPO). Melalui skema ini, petani didorong untuk terorganisasi sehingga memiliki daya tawar lebih tinggi, termasuk dalam penjualan kolektif dan akses pembiayaan investasi untuk fasilitas pengolahan.
Secara nasional, luas perkebunan sawit Indonesia mencapai sekitar 16–17 juta hektare, dengan sekitar 41 persen dikelola oleh petani rakyat. Industri ini juga menyerap sekitar 11 juta tenaga kerja dan menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar negara. Namun, kontribusi petani terhadap nilai tambah masih terbatas, sementara ketimpangan penguasaan lahan dan praktik ilegal masih menjadi tantangan struktural.
Kebijakan hilirisasi berbasis koperasi ini sejalan dengan arah pemerintah dalam mendorong kemandirian energi dan ekonomi nasional. PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) sendiri merupakan BUMN yang dibentuk pada 2025 untuk mengelola perkebunan sawit secara berkelanjutan serta mendukung program swasembada energi melalui pemanfaatan produk turunan sawit.
Dari sisi dampak, penguatan koperasi dalam rantai industri diperkirakan dapat meningkatkan kesejahteraan petani melalui akses harga yang lebih baik dan partisipasi dalam proses hilir. Selain itu, model ini berpotensi membuka lapangan kerja baru di sektor pengolahan serta memperkuat struktur industri domestik. Namun, keberhasilan implementasi sangat bergantung pada kapasitas kelembagaan koperasi, akses pembiayaan, serta pengawasan tata kelola agar tetap transparan dan berkelanjutan.
Sebagai tindak lanjut, Agrinas menyatakan akan memperluas kemitraan dengan koperasi serta mendorong pembangunan fasilitas pengolahan di tingkat petani. Pemerintah juga diharapkan terus memperkuat regulasi dan dukungan pembiayaan guna memastikan hilirisasi sawit rakyat dapat berjalan efektif dan memberikan nilai tambah maksimal bagi perekonomian nasional.
