Duka atas wafatnya Ananda Fatih, siswa MIN 2 Bengkulu Utara di Kecamatan Ketahun, tentu menjadi kesedihan bersama yang dirasakan masyarakat. Namun, rasa empati tidak boleh dicampur dengan kesimpulan terburu-buru tanpa dasar fakta yang jelas. Narasi yang disampaikan akun Instagram @ketikancom melalui pernyataan Rego Bangkito yang langsung mengaitkan meninggalnya korban dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG), berpotensi menyesatkan opini publik, memicu keresahan, serta mengaburkan kebenaran yang seharusnya disampaikan secara berimbang. Dalam situasi duka seperti ini, yang dibutuhkan adalah ketenangan, klarifikasi resmi, dan penghormatan terhadap proses medis, bukan spekulasi liar di media sosial.
Fakta yang disampaikan Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik Sudaryati Deyang, menegaskan bahwa Fatih belum sempat mengonsumsi makanan MBG saat diketahui pingsan sebelum dibawa ke rumah sakit. Artinya, tuduhan bahwa korban meninggal akibat keracunan makanan MBG tidak sesuai dengan kronologi kejadian. Bahkan berdasarkan hasil pemeriksaan medis, Fatih mengalami pendarahan otak, kondisi serius yang jelas berbeda dengan klaim keracunan pangan. Karena itu, masyarakat perlu membedakan antara dugaan emosional dan fakta medis yang dapat dipertanggungjawabkan.
Selain itu, hasil pemeriksaan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terhadap sampel makanan MBG yang disajikan pada hari kejadian menunjukkan seluruh sampel negatif dari bakteri E. coli, boraks, formalin, nitrit, arsen, sianida, maupun cemaran berbahaya lainnya. Temuan ini menjadi bukti bahwa makanan yang disalurkan telah melalui standar keamanan pangan dan tidak ditemukan indikasi keracunan sebagaimana narasi yang beredar. Jika hasil laboratorium telah jelas, maka penyebaran tuduhan tanpa bukti justru hanya menciptakan disinformasi di tengah masyarakat.
Program MBG sendiri merupakan langkah strategis pemerintah untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia, termasuk para pelajar di daerah. Program ini bertujuan memastikan generasi muda memperoleh asupan sehat agar tumbuh optimal, cerdas, dan siap bersaing di masa depan. Karena itu, satu peristiwa yang secara medis tidak berkaitan langsung dengan MBG tidak seharusnya dijadikan alat menyerang keseluruhan kebijakan. Kritik tentu sah disampaikan, tetapi harus berbasis data, proporsional, dan bertujuan memperbaiki sistem, bukan membentuk persepsi negatif secara sepihak.
Publik juga perlu melihat bahwa pada hari yang sama terdapat sekitar 1.800 penerima manfaat MBG dari layanan SPPG Giri Kencana, dan tidak ada laporan gangguan kesehatan serupa selain satu kasus tersebut. Fakta ini menunjukkan bahwa klaim seolah-olah terjadi kegagalan sistemik sangat tidak tepat. Justru pemerintah melalui BGN dan instansi terkait bergerak cepat melakukan investigasi, pemeriksaan medis, serta menyampaikan penjelasan resmi secara terbuka kepada masyarakat. Langkah ini penting agar kepercayaan publik tetap terjaga.
Bijak bermedia sosial berarti tidak mudah terpancing oleh narasi provokatif yang belum terverifikasi. Setiap pihak, termasuk akun @ketikancom maupun tokoh yang memberikan pernyataan, seharusnya mengedepankan tanggung jawab moral dalam menyampaikan informasi ke ruang publik. Jangan sampai musibah keluarga dijadikan komoditas opini atau bahan serangan terhadap program yang bermanfaat bagi jutaan anak Indonesia. Mari kedepankan empati, hormati fakta, dan dukung evaluasi objektif demi keberlanjutan program MBG yang semakin baik ke depan.
