JAKARTA, 8 Mei 2026 — Industri pertahanan nasional Republikorp Group resmi menggandeng perusahaan pertahanan Turki, Baykar, untuk mengembangkan pesawat tempur tanpa awak atau Unmanned Combat Aerial Vehicle (UCAV) generasi baru Bayraktar KIZILELMA. Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan perjanjian pengembangan pada ajang SAHA 2026 di Istanbul.
Pendiri Republikorp Group Norman Joesoef mengatakan kerja sama ini merupakan bagian dari penguatan ekosistem industri dirgantara nasional yang berkelanjutan, termasuk pengembangan teknologi sistem nirawak dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia dalam negeri.
“Bersama Baykar, kami membangun ekosistem aerospace dan unmanned systems yang berkelanjutan, mulai dari produksi, maintenance, pengembangan SDM hingga riset teknologi masa depan,” kata Norman dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (7/5/2026).
Norman menjelaskan, kerja sama tersebut merupakan kelanjutan dari joint venture agreement (JVA) yang telah dimulai sejak 2025 untuk produksi lokal drone Bayraktar TB3 dan AKINCI di Indonesia. Kini, kolaborasi diperluas ke pengembangan UCAV generasi baru sekaligus pembangunan ekosistem industri pertahanan yang lebih komprehensif.
Menurut dia, kerja sama mencakup transfer teknologi, pengembangan SDM, pembangunan fasilitas maintenance, repair and overhaul (MRO), pusat produksi dan integrasi lokal, sertifikasi tenaga ahli, hingga riset teknologi strategis masa depan.
“Kerja sama ini akan memperkuat pertahanan udara Indonesia mulai 2028 mendatang,” ujarnya.
Baykar sendiri merupakan salah satu perusahaan pertahanan Turki yang dikenal melalui pengembangan drone tempur Bayraktar yang telah digunakan di berbagai kawasan konflik dan operasi militer modern. Dalam beberapa tahun terakhir, Turki berkembang menjadi salah satu produsen utama teknologi drone militer dunia melalui penguatan industri pertahanan domestiknya.
Bagi Indonesia, pengembangan UCAV dinilai menjadi bagian penting dari modernisasi alat utama sistem senjata (alutsista), khususnya dalam menghadapi tantangan peperangan modern yang semakin mengandalkan teknologi nirawak, kecerdasan buatan, dan sistem tempur berbasis jaringan.
Dari sisi industri, kerja sama ini juga dinilai berpotensi mempercepat penguasaan teknologi strategis nasional, membuka peluang transfer keahlian bagi tenaga kerja Indonesia, serta meningkatkan kemampuan produksi dalam negeri pada sektor dirgantara dan pertahanan.
Selain memperkuat kemampuan pertahanan udara nasional, pengembangan industri drone tempur domestik juga diproyeksikan dapat mengurangi ketergantungan impor alutsista sekaligus meningkatkan daya saing industri pertahanan Indonesia di pasar global.
Ke depan, Republikorp Group dan Baykar akan melanjutkan tahapan pengembangan teknologi, pembangunan fasilitas produksi dan MRO di Indonesia, serta penguatan pelatihan dan sertifikasi tenaga ahli sebagai bagian dari implementasi kerja sama strategis kedua negara di sektor pertahanan.
