JAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan serangkaian langkah strategis untuk menstabilkan harga telur ayam ras di tingkat peternak yang mengalami penurunan dalam beberapa pekan terakhir. Strategi tersebut meliputi penguatan distribusi antardaerah, mendorong penjualan langsung dari peternak kepada konsumen, mengoptimalkan peran BUMN pangan dalam penyerapan produksi, hingga mengusulkan peningkatan konsumsi telur dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) guna menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian, Agung Suganda, menjelaskan bahwa pemerintah terus mendorong peternak ayam petelur, khususnya peternak rakyat, untuk memperpendek rantai distribusi agar nilai jual yang diterima peternak menjadi lebih baik.
“Kami terus mendorong agar para peternak rakyat, terutama telur, menjual telurnya langsung ke end user. Ini dilakukan teman-teman di Jawa Timur dan Jawa Tengah karena saat ini BUMN pangan kita belum bisa melakukan atau membantu distribusi dari Pulau Jawa ke luar Jawa,” ujar Agung dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi IV DPR RI di Jakarta.
Menurut Agung, penurunan harga telur saat ini tidak terjadi secara merata di seluruh Indonesia, melainkan terkonsentrasi di Pulau Jawa akibat tingginya pasokan. Sebaliknya, sejumlah wilayah di luar Jawa masih mencatat harga telur yang relatif tinggi sehingga distribusi antardaerah dinilai menjadi solusi yang efektif.
“Sebetulnya harga jatuh ini hanya di Pulau Jawa. Di Gorontalo harga telur masih sekitar Rp30.000 per kilogram, begitu juga di Maluku dan Papua,” katanya.
Karena itu, Kementerian Pertanian meminta dukungan Komisi IV DPR RI agar BUMN pangan dapat berperan lebih aktif dalam menyerap produksi peternak sekaligus mendistribusikan telur dari wilayah surplus menuju daerah yang masih mengalami kekurangan pasokan.
Selain komoditas telur, pemerintah juga terus memantau perkembangan harga ayam pedaging. Kementan optimistis harga ayam broiler di tingkat peternak mulai membaik pada pertengahan Juli 2026 dengan target harga minimal mencapai Rp19.500 per kilogram untuk seluruh ukuran ayam, sehingga dapat memberikan kepastian usaha bagi peternak.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Suwandi menjelaskan bahwa melemahnya harga telur dipengaruhi oleh faktor musiman yang menyebabkan konsumsi masyarakat menurun secara berturut-turut. Momentum Hari Raya Iduladha, Tahun Baru Islam 1 Suro, serta libur panjang sekolah mengurangi permintaan telur, khususnya di Pulau Jawa.
Untuk meningkatkan kembali permintaan, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman telah mengusulkan kepada Badan Gizi Nasional (BGN) agar frekuensi penyajian telur dalam Program Makan Bergizi Gratis ditingkatkan dari satu kali menjadi tiga kali setiap pekan setelah kegiatan belajar mengajar kembali berlangsung.
“Bapak Menteri Pertanian sudah bersurat ke Kepala BGN untuk menambah hari konsumsi telur, dari sehari menjadi tiga hari makan telur dalam seminggu. Setelah anak-anak kembali masuk sekolah, permintaan diharapkan meningkat lagi,” ujar Suwandi.
Di sisi lain, Menteri Pertanian juga telah menyampaikan surat kepada Menteri Perindustrian agar investasi perusahaan berskala besar pada sektor peternakan ayam dapat dikendalikan sehingga iklim usaha peternak rakyat tetap terjaga dan persaingan berlangsung secara sehat.
Upaya stabilisasi harga telur merupakan bagian dari kebijakan pemerintah dalam menjaga keberlanjutan sektor peternakan nasional. Telur ayam ras merupakan salah satu sumber protein hewani utama masyarakat Indonesia sekaligus komoditas strategis yang melibatkan jutaan peternak rakyat di berbagai daerah. Stabilitas harga dinilai penting agar kesejahteraan peternak tetap terjaga tanpa mengurangi akses masyarakat terhadap pangan bergizi dengan harga yang terjangkau.
Apabila strategi distribusi antardaerah, peningkatan serapan melalui Program Makan Bergizi Gratis, serta penguatan peran BUMN pangan berjalan optimal, keseimbangan pasokan dan permintaan diperkirakan akan kembali terbentuk. Kondisi tersebut diharapkan mampu menjaga harga telur di tingkat peternak tetap stabil, memperkuat pendapatan peternak rakyat, sekaligus memastikan kebutuhan protein masyarakat tetap terpenuhi.
Ke depan, Kementerian Pertanian akan terus berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional, BUMN pangan, pemerintah daerah, dan kementerian terkait untuk memperkuat sistem distribusi, memperluas penyerapan produksi peternak, serta menjaga stabilitas harga komoditas peternakan sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional.
