Gresik — Pemerintah bersama sejumlah BUMN memulai pengembangan Gresik sebagai pusat hilirisasi terintegrasi berdaya saing global melalui peletakan batu pertama dua proyek strategis pada Rabu (29/4/2026). Proyek tersebut meliputi fasilitas produksi brass mill dan brass cup serta pabrik manufaktur emas logam mulia, yang bertujuan memperkuat industri turunan tembaga dan emas sekaligus menekan ketergantungan impor.
Proyek ini merupakan bagian dari 13 Proyek Hilirisasi Nasional Tahap II yang digagas oleh Danantara, dengan melibatkan kolaborasi antara MIND ID, DEFEND ID, dan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo). Dalam skema industri, katoda tembaga hasil smelter akan diolah menjadi brass cup dan brass mill berkapasitas 10.000 ton per tahun untuk kebutuhan amunisi nasional, sementara pengolahan emas dilakukan oleh PT Aneka Tambang Tbk menjadi bullion guna memperkuat rantai pasok domestik.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menyatakan pengembangan industri hilir di kawasan tersebut akan menjadi pendorong utama transformasi ekonomi daerah.
“Jawa Timur ingin menjadi bagian penting dari rantai nilai industri nasional,” ujar Emil dalam keterangan resmi.
Ia menambahkan bahwa hilirisasi di kawasan ini telah mencapai tahap produk turunan tingkat lanjut, termasuk pengolahan katoda tembaga menjadi berbagai produk seperti copper rod, copper foil, hingga bahan baku amunisi.
“Kita sudah bergeser ke arah industri derivatif. Katoda tembaga yang dihasilkan smelter kini diolah menjadi brass cup oleh Pindad untuk kebutuhan amunisi. Jadi, peluru yang biasanya diimpor untuk kebutuhan TNI, ke depan akan diproduksi di dalam negeri menggunakan bahan baku lokal,” tuturnya.
Pengembangan kawasan ini tidak terlepas dari kebijakan hilirisasi nasional yang beberapa tahun terakhir digencarkan pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam. Selama ini, komoditas mineral seperti tembaga dan emas lebih banyak diekspor dalam bentuk mentah atau setengah jadi, sehingga potensi nilai ekonomi belum optimal.
Dari sisi dampak, proyek terintegrasi ini diproyeksikan menyerap hingga 7.000 tenaga kerja terampil serta mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan. Selain itu, penguatan industri turunan juga berpotensi meningkatkan kemandirian sektor pertahanan dengan mengurangi impor komponen amunisi. Secara makro, posisi kawasan di wilayah aglomerasi Gerbangkertosusila memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional, dengan hampir 10 persen aktivitas ekonomi Indonesia berputar di wilayah tersebut.
Pemerintah daerah pun berkomitmen memperkuat dukungan infrastruktur untuk memastikan kelancaran operasional kawasan industri. Emil menegaskan, pengembangan akses jalan tol dan pembenahan jembatan akan diprioritaskan guna meningkatkan efisiensi logistik.
“KEK Gresik bukan lagi single commodity, melainkan multi-commodity hub. Dengan dukungan infrastruktur dan ekosistem industri yang terintegrasi, kawasan ini akan menjadi motor pertumbuhan ekonomi yang menyerap ribuan tenaga kerja,” katanya.
Ke depan, pemerintah akan melanjutkan pengembangan hilirisasi tahap berikutnya, termasuk memperluas investasi industri turunan dan memperkuat integrasi rantai pasok nasional. Langkah ini diharapkan mampu menjadikan Gresik sebagai pusat industri strategis di Asia Tenggara sekaligus meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia secara global.
