RANTAU — Dinas Pertanian Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, mengingatkan ancaman serius serangan hama tikus dan burung mayar terhadap produksi padi petani. Serangan hama tersebut dinilai berpotensi memicu gagal panen hingga mengganggu ketahanan pangan daerah jika tidak segera dikendalikan.
Kepala Dinas Pertanian Tapin Mohammad Triasmoro mengatakan, hama tikus menjadi ancaman paling merusak karena menyerang tanaman padi pada seluruh fase pertumbuhan, mulai dari persemaian hingga menjelang panen.
“Hama tikus tidak hanya memakan padi, tetapi juga memotong batang untuk mengasah giginya. Pada tingkat serangan berat dapat menyebabkan puso atau gagal panen total,” ujar Triasmoro di Rantau, Senin.
Selain tikus, petani juga menghadapi serangan burung mayar atau pipit yang menyerang tanaman saat fase pengisian bulir hingga gabah matang. Akibatnya, banyak bulir padi menjadi hampa dan menurunkan hasil panen secara signifikan.
“Jika serangannya masif, produksi padi bisa turun hingga 30 sampai 50 persen,” katanya.
Menurut Triasmoro, peningkatan serangan hama tahun ini dipicu pola tanam petani yang tidak serempak sehingga sumber makanan hama tersedia terus-menerus di area persawahan. Kondisi tersebut membuat populasi hama berkembang lebih cepat.
Ia juga menyebut berkurangnya populasi predator alami seperti burung hantu dan ular sawah turut memperparah ledakan populasi tikus. Selain itu, faktor anomali cuaca dinilai mendukung siklus perkembangbiakan hama di wilayah pertanian.
Untuk mengantisipasi kerugian lebih besar, Dinas Pertanian Tapin terus memetakan wilayah rawan serangan melalui pengamatan rutin yang dilakukan petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) bersama petani pengamat di lapangan.
“Peningkatan serangan hama tahun ini dipicu pola tanam yang tidak serempak sehingga sumber makanan hama tersedia terus-menerus di hamparan sawah,” ungkap Triasmoro.
Pemerintah daerah juga mengintensifkan gerakan pengendalian massal melalui gropyokan tikus, pengemposan sarang, hingga pemberian bantuan sarana pengendalian hama kepada kelompok tani.
“Pemkab juga menyalurkan bantuan rodentisida, rumah burung hantu, benih refugia, hingga penyuluhan pengendalian hama terpadu agar petani mampu melakukan mitigasi secara mandiri,” jelasnya.
Serangan hama tersebut mulai dirasakan langsung oleh petani di sejumlah wilayah Tapin. Salah satunya di Desa Rangda Malingkung, di mana hasil panen padi Siam Kupang dilaporkan menurun akibat gangguan tikus dan burung mayar.
“Biasanya yang mengganggu tikus sama burung mayar, jadi hasilnya agak berkurang,” kata petani setempat, Hamsiyah.
Ancaman hama terhadap produksi padi menjadi perhatian serius karena Tapin merupakan salah satu daerah penyangga pangan di Kalimantan Selatan. Penurunan hasil panen berpotensi memengaruhi pasokan beras lokal sekaligus menambah beban petani di tengah meningkatnya biaya produksi pertanian.
Selain berdampak terhadap pendapatan petani, gangguan produksi padi juga dapat memengaruhi stabilitas harga pangan apabila serangan hama terjadi secara luas dan berkepanjangan.
Ke depan, Pemerintah Kabupaten Tapin berencana memperkuat sistem pengendalian hama terpadu melalui peningkatan edukasi petani, penguatan pola tanam serempak, serta pelestarian predator alami untuk menjaga keseimbangan ekosistem pertanian dan menekan risiko gagal panen.
