TANA TORAJA, 8 April 2026 — Pemerintah Kabupaten Tana Toraja melaporkan progres pembangunan gedung Sekolah Rakyat yang berlokasi di jalan masuk Bandara Toraja, Lembang Marinding, Kecamatan Mengkendek, telah mencapai lebih dari 60 persen. Proyek dengan anggaran Rp241,3 miliar yang bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2025/2026 ini ditargetkan mulai beroperasi pada tahun ajaran 2026/2027.
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Tana Toraja, Adriana Saleng, menyampaikan capaian tersebut dalam rapat kerja Panitia Khusus LKPJ Bupati di DPRD Tana Toraja. Ia menyebut sekolah tersebut akan menampung sekitar 900 siswa dari keluarga kurang mampu dan anak putus sekolah. “Untuk tahun ajaran 2026/2027 Sekolah Rakyat ini akan menerima kurang lebih 900 siswa baru,” ujarnya.
Menurut Adriana, peserta didik diprioritaskan berasal dari kelompok Desil 1 dan Desil 2, termasuk keluarga penerima Program Keluarga Harapan (PKH). Ia menegaskan program ini dirancang untuk memperluas akses pendidikan bagi kelompok rentan. “Masyarakat kurang mampu dan anak putus sekolah menjadi prioritas utama dalam penerimaan siswa,” katanya.
Secara fasilitas, Sekolah Rakyat Tana Toraja akan terdiri dari 9 ruang kelas SMA, 9 ruang kelas SMP, serta 18 ruang kelas SD yang dilengkapi asrama bagi siswa. Model pendidikan berasrama ini diharapkan dapat menunjang keberlanjutan belajar bagi siswa dari wilayah terpencil.
Sebagai tahap awal, program Sekolah Rakyat Rintisan saat ini telah diikuti oleh 73 siswa. Dari jumlah tersebut, dua siswa dilaporkan lolos seleksi Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) tingkat kabupaten untuk peringatan HUT RI 2026.
Pembangunan gedung sekolah ini dilaksanakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jenderal Prasarana Strategis, dengan kontraktor pelaksana PT Waskita Karya serta konsultan pengawas PT Agrinas Pangan Nusantara.
Program Sekolah Rakyat merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam menekan angka putus sekolah dan meningkatkan pemerataan akses pendidikan di daerah. Secara nasional, kebijakan ini diarahkan untuk menjangkau kelompok masyarakat miskin yang selama ini memiliki keterbatasan akses terhadap layanan pendidikan formal.
Dari sisi dampak, kehadiran Sekolah Rakyat di Tana Toraja diharapkan mampu meningkatkan angka partisipasi sekolah, sekaligus membuka peluang mobilitas sosial bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Selain itu, pendekatan berbasis asrama dinilai dapat membantu siswa dari wilayah terpencil mendapatkan akses pendidikan yang lebih stabil.
Pemerintah daerah memastikan pembangunan akan terus dikebut agar selesai sesuai target. Ke depan, koordinasi dengan kementerian terkait akan diperkuat untuk memastikan kesiapan operasional, termasuk tenaga pengajar, kurikulum, serta fasilitas pendukung sebelum penerimaan siswa baru dimulai pada tahun ajaran mendatang.
