JAKARTA, 28 April 2026 — Fenomena El Nino ekstrem atau “Godzilla” diperkirakan terjadi pada musim kemarau 2026 dan berisiko menurunkan debit sungai-sungai utama jalur logistik batu bara di Kalimantan, seperti Sungai Mahakam dan Sungai Barito, hingga ke titik kritis. Kondisi ini berpotensi menghambat pelayaran tongkang dan mengganggu rantai pasok energi nasional.
Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Iwa Garniwa, menyebut dampak El Nino tahun ini berpotensi lebih parah dibandingkan periode sebelumnya. “Diperkirakan bisa lebih parah,” ujarnya, Senin (27/4/2026), merujuk pada pengalaman penurunan debit sungai pada 2015, 2019, dan 2023.
Pada periode El Nino 2015, debit Sungai Mahakam menurun drastis sehingga kapasitas muatan tongkang harus dikurangi hingga 50 persen untuk menghindari kandas. Sementara pada Agustus 2019, muncul 14 titik gosong atau sedimentasi yang menghentikan aktivitas tongkang besar selama tiga hari. Di Sungai Barito, kondisi serupa terjadi pada Oktober 2023 hingga memicu sejumlah perusahaan mengajukan keadaan kahar karena kapal tidak dapat bersandar.
Menurut Iwa, gangguan logistik akibat penurunan debit sungai dapat berdampak luas pada sektor industri dan penerimaan negara. “Gangguan selama satu bulan berpotensi mengurangi penerimaan negara Rp6 triliun hingga Rp8 triliun,” katanya. Ia menambahkan, dampak juga dirasakan tenaga kerja seperti anak buah kapal dan pekerja bongkar muat di wilayah Samarinda, Balikpapan, dan Banjarmasin.
Selain itu, keterlambatan pengiriman batu bara berpotensi menurunkan kepercayaan pembeli internasional. Indonesia saat ini menguasai sekitar 48 persen pangsa pasar batu bara termal global dengan volume ekspor sekitar 550 juta ton per tahun, terutama ke negara seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan.
Gangguan pasokan dari Kalimantan juga berisiko memicu lonjakan harga batu bara global melalui mekanisme supply shock. Penurunan distribusi selama satu bulan diperkirakan dapat menahan hingga 40 juta ton pasokan atau sekitar 7 persen dari total pasokan global tahunan. Kondisi ini diperparah dengan terbatasnya stok batu bara di negara importir yang rata-rata hanya cukup untuk 15–20 hari.
Dari sisi domestik, lebih dari 60 persen pasokan listrik di sistem Jawa-Bali masih bergantung pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batu bara. Gangguan distribusi berpotensi menekan keandalan sistem kelistrikan nasional.
Secara historis, penghentian ekspor batu bara Indonesia pada Januari 2022 pernah mendorong kenaikan harga acuan Newcastle hingga 32 persen dalam 10 hari. Hal ini menunjukkan sensitivitas pasar global terhadap gangguan pasokan dari Indonesia sebagai pemasok utama.
Dampak lanjutan dari kenaikan harga batu bara dapat merambat ke tarif listrik industri di negara importir, mendorong peralihan ke energi alternatif seperti liquefied natural gas (LNG), serta berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global.
Untuk mengantisipasi risiko tersebut, Iwa merekomendasikan langkah mitigasi jangka pendek berupa pengerukan alur sungai secara berkala serta penerapan sistem pemantauan debit air secara real-time. Dalam jangka menengah, pemerintah didorong mempercepat diversifikasi moda transportasi batu bara agar tidak bergantung pada jalur sungai.
Pemerintah saat ini tengah menyiapkan strategi mitigasi kekeringan dan penguatan logistik energi guna menjaga stabilitas pasokan nasional selama periode El Nino 2026.
