Jakarta, 22 April 2026 – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan melakukan uji jalan (road test) implementasi bahan bakar biodiesel 50% atau B50 pada kereta api mulai pekan depan. Uji coba ini dilakukan sebagai bagian dari upaya memastikan kinerja B50 di berbagai sektor, termasuk otomotif, alat berat, pertanian, kereta api, angkutan laut, dan pembangkit listrik.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menyampaikan bahwa uji jalan pada kereta api akan dilakukan dengan rute dari Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta, menuju Stasiun Pasar Senen, Jakarta. Selain itu, rute lainnya yang juga akan diuji adalah dari Stasiun Gambir ke Stasiun Surabaya Pasar Turi. Setelah itu, uji jalan di wilayah dengan suhu dingin, seperti kawasan Bromo, Jawa Timur, juga direncanakan untuk menguji apakah mesin kereta dapat beroperasi dengan baik di suhu rendah.
“Untuk menguji, bisa atau tidak mesinnya dihidupkan di suhu yang dingin,” ujar Eniya saat ditemui di Stasiun Blending dan Pengisian Bahan Bakar Uji Jalan B50 di Lembang, Jawa Barat, Selasa (21/4).
Uji jalan B50 pada kereta api merupakan bagian dari tahapan transisi dari B40 ke B50 yang dijadwalkan dimulai pada Juli 2026. Masa transisi ini diperkirakan berlangsung sekitar tiga bulan. Implementasi program B50 ini merupakan respons terhadap dinamika energi global dan upaya untuk memperkuat ketahanan energi nasional, dengan fokus pada pengurangan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
Selain sektor kereta api, uji jalan B50 juga dilakukan pada sektor otomotif, yang ditargetkan selesai pada Mei 2026. Di sektor ini, sembilan unit kendaraan dari berbagai produsen otomotif, baik Jepang maupun Eropa, tengah diuji jalan sejauh 50.000 km untuk kendaraan ringan dan 40.000 km untuk kendaraan berat seperti truk besar dan bus. Uji jalan ini juga mencakup traktor dan alat berat di sektor pertanian dan tambang.
“Uji jalan untuk sektor otomotif akan selesai Mei, termasuk yang 50.000 km. Setelah itu akan dicek semua mesinnya,” kata Eniya.
Kementerian ESDM juga memastikan bahwa seluruh prosedur pengujian tetap mengikuti standar operasional (SOP) yang ditetapkan oleh masing-masing produsen kendaraan, untuk memastikan keandalan dan kompatibilitas B50 dengan berbagai jenis mesin. Pengujian ini diharapkan memberikan hasil yang dapat mendukung implementasi program B50 secara nasional.
Selain di sektor otomotif dan kereta api, uji coba B50 juga telah dilakukan di sektor maritim dan pertambangan, dengan beberapa perusahaan tambang di Kalimantan Timur turut berpartisipasi. Uji coba ini juga dilaksanakan di sektor pembangkit listrik untuk memastikan kestabilan pasokan energi yang lebih ramah lingkungan.
Program B50 ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian Indonesia, dengan memperkuat kemandirian energi, mengurangi emisi gas rumah kaca, dan menciptakan lapangan pekerjaan baru. Pemerintah menargetkan bahwa implementasi B50 dapat menghemat devisa negara hingga Rp 157,28 triliun dan menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 46,72 juta ton CO2 pada tahun 2026.
