GORONTALO, 23 April 2026 — Pemerintah Provinsi Gorontalo melalui Dinas Kesehatan menggelar pertemuan bersama tenaga ahli gizi SPPG dan puskesmas di Ballroom Hotel Grand Q, Selasa (21/4/2026), guna mengevaluasi dan memperkuat pelaksanaan program Makanan Bergizi Gratis (MBG), khususnya bagi kelompok B3, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Kegiatan yang dibuka oleh Wakil Gubernur Gorontalo tersebut menyoroti perlunya perbaikan menyeluruh dalam implementasi program MBG, terutama terkait kualitas layanan. Dalam arahannya, Wakil Gubernur menekankan pentingnya peningkatan variasi menu serta ketepatan porsi sesuai kebutuhan penerima manfaat.
“Program MBG ini harus benar-benar kita perbaiki, baik dari sisi variasi menu maupun ketepatan takaran sesuai kebutuhan penerima manfaat,” ujarnya.
Selain aspek kualitas, peran tenaga gizi puskesmas juga menjadi perhatian utama dalam memastikan efektivitas program. Pendataan kelompok sasaran dinilai harus dilakukan secara menyeluruh dan akurat, termasuk memastikan distribusi dan konsumsi makanan tambahan berjalan optimal.
“Kita temukan masih ada makanan tambahan yang tidak diambil atau tidak dikonsumsi. Ini tentu berdampak pada pemenuhan gizi yang tidak optimal,” tambahnya.
Dalam pertemuan tersebut, Wakil Gubernur juga menyoroti tingginya angka kematian ibu dan anak di Gorontalo yang mencapai 17 kasus dalam periode Januari hingga April 2026. Angka ini dinilai telah melampaui batas ideal tahunan dan menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah.
Ia mendorong keterlibatan aktif Tim Penggerak PKK serta pemerintah desa dalam melakukan pendampingan kepada masyarakat. Menurutnya, desa memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam upaya pencegahan, termasuk melalui evaluasi mendalam terhadap setiap kasus.
“Setiap kasus harus dibedah untuk mengetahui penyebabnya, sehingga langkah pencegahan bisa dilakukan secara tepat,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, Anang S. Otoluwa, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan inisiatif Wakil Gubernur selaku Ketua Satgas MBG untuk memperkuat koordinasi lintas sektor. Ia menyebut forum ini sebagai wadah strategis untuk menyinergikan data dan informasi antara SPPG dan puskesmas, khususnya dalam penyusunan data sasaran berbasis by name by address bagi kelompok B3.
Pertemuan yang berlangsung selama dua hari ini diikuti oleh seluruh ahli gizi SPPG se-Provinsi Gorontalo, petugas gizi puskesmas, penanggung jawab gizi dinas kesehatan kabupaten/kota, serta pemangku kepentingan terkait. Kegiatan ini juga menghadirkan tenaga ahli gizi dari Jakarta sebagai narasumber.
Secara konteks, program MBG merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam menekan angka stunting dan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, terutama pada kelompok rentan. Namun, efektivitas program sangat bergantung pada akurasi data, kualitas distribusi, serta keterlibatan aktif tenaga kesehatan di lapangan.
Dari sisi dampak, perbaikan pelaksanaan MBG diharapkan dapat meningkatkan status gizi masyarakat dan menurunkan risiko kematian ibu dan anak. Sebaliknya, jika tidak ditangani secara optimal, ketidaktepatan sasaran dan distribusi berpotensi menghambat pencapaian target pembangunan kesehatan daerah.
Sebagai tindak lanjut, Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo akan memperkuat koordinasi lintas sektor, melakukan pemutakhiran data sasaran secara berkala, serta meningkatkan pengawasan terhadap distribusi dan konsumsi makanan tambahan di tingkat masyarakat.
