Kendari – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengajak perguruan tinggi mengambil peran lebih besar dalam memperkuat hilirisasi pertanian dan menjaga keberlanjutan swasembada pangan nasional melalui inovasi, riset, serta pengembangan sumber daya manusia (SDM) unggul. Ajakan tersebut disampaikan saat memberikan kuliah umum di Universitas Halu Oleo (UHO), Kendari, Sulawesi Tenggara, Sabtu (7/6/2026).
Dalam kuliah umum bertajuk “Dari Kampus untuk Negeri: Penguatan Nilai Kebangsaan, Inovasi Pertanian, dan Kemandirian Pangan Nasional”, Mentan menegaskan bahwa Indonesia telah berhasil meningkatkan produksi pangan hingga mencapai swasembada pada sejumlah komoditas strategis. Menurutnya, tantangan berikutnya adalah menjaga keberlanjutan produksi sekaligus meningkatkan nilai tambah melalui hilirisasi sektor pertanian.
“Kita sudah membuktikan swasembada pangan. Sekarang tantangannya adalah bagaimana menjaga keberlanjutannya dan melangkah ke hilirisasi,” kata Amran.
Ia menjelaskan, kekayaan sumber daya alam yang dimiliki Indonesia harus diimbangi dengan kualitas SDM yang mampu menciptakan inovasi dan teknologi. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam mencetak generasi muda yang mampu mendorong transformasi sektor pertanian nasional.
“Indonesia sangat kaya, tetapi kekayaan itu harus bertemu dengan SDM yang tangguh. Di situlah peran kampus menjadi sangat penting,” ujarnya.
Amran menyebut capaian sektor pangan nasional telah mendapat pengakuan dari berbagai lembaga internasional seperti Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), serta didukung data Badan Pusat Statistik (BPS). Sejumlah komoditas yang disebut telah mencapai swasembada dan surplus antara lain beras, jagung, gula konsumsi, cabai besar, cabai rawit, minyak goreng, bawang merah, daging ayam, dan telur ayam.
Menurut data pemerintah, stok cadangan beras yang dikelola Perum Bulog hingga awal Juni 2026 mencapai sekitar 5,3 juta ton, salah satu yang tertinggi dalam sejarah Indonesia. Capaian tersebut, kata Amran, merupakan hasil kerja bersama berbagai pihak.
“Ini bukan kerja satu orang, melainkan kerja bersama. Ada petani, perguruan tinggi, mahasiswa, TNI, Polri, dan seluruh elemen bangsa. Kita membuktikan bahwa Indonesia tidak harus bergantung pada impor pangan,” katanya.
Setelah memperkuat produksi nasional, pemerintah kini mengarahkan fokus pembangunan sektor pertanian ke hilirisasi guna meningkatkan nilai ekonomi produk pertanian. Mentan menilai Sulawesi Tenggara memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pengembangan agroindustri berbasis komoditas perkebunan.
Ia mencontohkan komoditas kelapa yang selama ini banyak dijual dalam bentuk bahan mentah. Menurutnya, pengolahan menjadi produk turunan seperti virgin coconut oil (VCO), santan, dan berbagai produk lainnya dapat meningkatkan nilai jual berkali-kali lipat sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
“Kalau hanya menjual bahan mentah, nilainya kecil. Tetapi kalau kelapa diolah menjadi virgin coconut oil (VCO), santan, coconut milk, dan produk turunannya, nilainya bisa berkali-kali lipat. Mimpi kita adalah hilirisasi seluruh komoditas sehingga kesejahteraan petani meningkat,” jelasnya.
Sebagai bagian dari penguatan inovasi, Amran mengajak Universitas Halu Oleo memperluas kolaborasi riset dengan Kementerian Pertanian. Ia mencontohkan keberhasilan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya yang berhasil mengembangkan Benwit atau bensin sawit sebagai bahan bakar alternatif berbasis minyak sawit.
“ITS sudah menghasilkan inovasi minyak sawit menjadi bahan bakar, Benwit. Saya berharap Universitas Halu Oleo juga bisa berkontribusi melahirkan inovasi baru. Kalau sudah berhasil, kita jadikan industri,” ujarnya.
Penguatan hilirisasi dinilai memiliki dampak strategis bagi masyarakat, terutama dalam meningkatkan pendapatan petani, memperluas lapangan kerja di sektor agroindustri, serta mengurangi ketergantungan terhadap ekspor bahan mentah. Selain itu, pengembangan industri pengolahan di daerah diyakini dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi lokal dan memperkuat daya saing produk pertanian Indonesia di pasar global.
Ke depan, Kementerian Pertanian akan terus mendorong sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan petani untuk mempercepat pengembangan teknologi pertanian serta hilirisasi komoditas unggulan di berbagai daerah. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang pemerintah dalam mewujudkan ketahanan pangan, kemandirian energi, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat berbasis sektor pertanian.
