JAKARTA – Kementerian Sosial (Kemensos) menegaskan pelibatan taruna Akademi Militer (Akmil) dalam pendampingan siswa Sekolah Rakyat bertujuan membentuk karakter, kedisiplinan, dan kemandirian peserta didik, bukan memberikan pelatihan militer. Program yang akan berlangsung pada 3–8 Agustus 2026 tersebut dirancang untuk membantu proses adaptasi siswa yang menjalani pendidikan berasrama di 178 titik Sekolah Rakyat di seluruh Indonesia.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf menjelaskan bahwa Kemensos secara langsung mengajukan permohonan kepada TNI untuk menghadirkan sekitar 1.000 taruna Akmil tingkat I dan II sebagai pendamping bagi siswa Sekolah Rakyat. Menurutnya, para taruna akan menjadi teladan dalam membangun kebiasaan hidup mandiri dan disiplin sehari-hari.
“Harapan kami taruna-taruna Akmil itu bisa memberikan contoh kepada siswa-siswa Sekolah Rakyat yang juga mereka sekolahnya berasrama. Bagaimana bangun pagi, membersihkan tempat tidur, membersihkan perlengkapan yang mereka punya, bagaimana memakai sepatu, memakai seragam, bukan hal lain,” ujar Saifullah Yusuf di sela Seminar Nasional di Universitas Nasional, Jakarta, Selasa.
Ia menegaskan bahwa tidak ada materi latihan fisik militer dalam kegiatan tersebut. Pendampingan difokuskan pada pembiasaan disiplin, tanggung jawab, dan keterampilan dasar yang mendukung kehidupan di lingkungan asrama.
“Tidak ada, di sana tidak ada. Tentu tidak secara khusus untuk itu,” tegasnya.
Menurut Saifullah, pola pendampingan yang diterapkan serupa dengan konsep Kuliah Kerja Nyata (KKN), di mana taruna hadir untuk berbagi pengalaman dan mendampingi siswa selama masa orientasi. Materi yang diberikan hanya berupa latihan baris-berbaris dasar secara ringan, pengenalan disiplin waktu, serta pembiasaan mempersiapkan diri sebelum mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Kemensos juga memastikan pendekatan yang digunakan bersifat persuasif dan humanis. Proses pendampingan mempertimbangkan kondisi psikologis siswa yang berasal dari berbagai latar belakang sosial dan ekonomi. Pemerintah bahkan memberikan kesempatan kepada siswa untuk pulang secara berkala guna memudahkan proses adaptasi selama menjalani pendidikan berasrama.
“Jadi ini penting sekali, menurut saya ini bagian dari pembelajaran yang bisa dijadikan contoh oleh siswa-siswa Sekolah Rakyat,” kata Saifullah.
Program Sekolah Rakyat merupakan salah satu program prioritas pemerintah yang bertujuan memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Konsep pendidikan berasrama dipilih agar peserta didik memperoleh lingkungan belajar yang lebih kondusif sekaligus pembinaan karakter secara menyeluruh. Pada tahun ajaran 2026/2027, pemerintah menargetkan 178 Sekolah Rakyat mulai beroperasi di berbagai daerah sebagai bagian dari upaya memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan.
Pelibatan taruna Akmil diharapkan memberikan dampak positif terhadap pembentukan karakter siswa sejak awal memasuki lingkungan asrama. Pembiasaan hidup tertib, disiplin, mandiri, serta bertanggung jawab dinilai dapat mendukung proses belajar sekaligus meningkatkan kesiapan siswa mengikuti pendidikan secara optimal. Pendekatan tersebut juga diharapkan mempercepat adaptasi peserta didik sehingga mereka merasa lebih nyaman dan percaya diri selama menjalani kehidupan di Sekolah Rakyat.
Ke depan, Kementerian Sosial akan terus melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program pendampingan tersebut bersama TNI dan para pengelola Sekolah Rakyat. Hasil evaluasi akan menjadi dasar penyempurnaan pola pembinaan karakter agar sejalan dengan tujuan utama pemerintah dalam membangun generasi muda yang berkarakter, mandiri, dan memiliki kesiapan menghadapi masa depan.
