Jakarta, 29 April 2026 — Harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax dan Pertamax Green di SPBU Pertamina terpantau stabil meskipun konflik bersenjata Amerika Serikat–Israel dengan Iran yang berlangsung sejak akhir Februari 2026 memicu volatilitas pasar energi global.
Berdasarkan data resmi Pertamina di Jakarta, Senin (29/4), harga Pertamax tetap di level Rp12.300 per liter, sementara Pertamax Green bertahan di Rp12.900 per liter tanpa perubahan dibanding periode sebelumnya.
Namun, sejumlah BBM nonsubsidi lain mengalami kenaikan harga signifikan. Pertamax Turbo naik menjadi Rp19.400 per liter dari sebelumnya Rp13.100 per liter. Sementara Dexlite dan Pertamina Dex juga mengalami lonjakan masing-masing menjadi Rp23.600 dan Rp23.900 per liter.
“Stabilitas harga beberapa produk utama menunjukkan upaya menjaga keseimbangan harga di tengah tekanan pasar minyak global,” demikian tercantum dalam data harga resmi Pertamina.
Sementara itu, pengamat energi menilai dinamika harga BBM domestik saat ini masih sangat dipengaruhi oleh kondisi geopolitik global, terutama di kawasan Timur Tengah yang merupakan salah satu jalur utama distribusi minyak dunia. Ketegangan yang berlangsung di kawasan tersebut mendorong kenaikan harga minyak mentah internasional dan berdampak pada struktur harga BBM di berbagai negara.
Di sisi lain, sejumlah operator SPBU swasta juga melakukan penyesuaian harga. SPBU bp mencatat kenaikan pada produk BP Ultimate Diesel menjadi Rp25.560 per liter dari sebelumnya Rp14.620 per liter, meski harga BP Ultimate dan BP 92 relatif stabil di kisaran Rp12 ribuan.
Sementara itu, SPBU Shell dan Vivo belum melakukan penyesuaian harga sejak awal Maret 2026. Namun, keduanya dilaporkan mengalami tekanan pasokan untuk beberapa jenis BBM tertentu, termasuk solar dan varian RON tinggi.
Secara historis, harga BBM di Indonesia memang cenderung mengikuti pergerakan harga minyak mentah dunia dengan jeda waktu penyesuaian, terutama untuk produk nonsubsidi. Mekanisme ini bertujuan menjaga stabilitas inflasi domestik sekaligus mempertahankan daya beli masyarakat.
Dari sisi dampak, stabilnya harga Pertamax dan Pertamax Green memberikan kepastian bagi sektor transportasi dan logistik yang bergantung pada BBM berkualitas tinggi. Namun, kenaikan pada jenis BBM lain berpotensi meningkatkan biaya operasional di sejumlah sektor industri dan transportasi barang.
Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) diperkirakan akan terus memantau perkembangan harga minyak global serta menyesuaikan kebijakan harga BBM secara berkala. Selain itu, penguatan cadangan energi nasional dan diversifikasi energi juga menjadi langkah strategis untuk mengurangi dampak fluktuasi harga internasional di masa mendatang.
