Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61 Persen pada Triwulan I 2026

JAKARTA — Perekonomian Indonesia pada triwulan I-2026 mencatat pertumbuhan sebesar 5,61 persen secara tahunan atau year-on-year (y-on-y). Berdasarkan data Produk Domestik Bruto (PDB), nilai ekonomi Indonesia atas dasar harga berlaku mencapai Rp6.187,2 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp3.447,7 triliun.

Pertumbuhan ekonomi tersebut didorong oleh peningkatan aktivitas di sejumlah sektor usaha serta pengeluaran pemerintah pada awal tahun. Dari sisi produksi, lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum menjadi sektor dengan pertumbuhan tertinggi, yakni sebesar 13,14 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, dari sisi pengeluaran, Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 21,81 persen. Kenaikan tersebut mencerminkan meningkatnya realisasi belanja pemerintah yang turut menopang aktivitas ekonomi nasional.

Secara triwulanan atau quarter-to-quarter (q-to-q), ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 mengalami kontraksi sebesar 0,77 persen dibandingkan triwulan IV-2025. Penurunan ini dipengaruhi perlambatan sejumlah sektor usaha setelah periode akhir tahun.

Dari sisi produksi, lapangan usaha pertambangan dan penggalian mengalami kontraksi terdalam sebesar 8,20 persen. Adapun dari sisi pengeluaran, Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah mengalami kontraksi sebesar 30,13 persen seiring berakhirnya pola belanja tinggi pemerintah pada akhir tahun anggaran sebelumnya.

Kelompok provinsi di Pulau Jawa masih mendominasi struktur perekonomian nasional pada triwulan I-2026 dengan kontribusi mencapai 57,24 persen terhadap total ekonomi Indonesia. Wilayah ini juga mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,79 persen secara tahunan.

Dominasi Pulau Jawa dinilai masih ditopang oleh tingginya aktivitas industri pengolahan, perdagangan, jasa, serta konsumsi rumah tangga yang menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional. Selain itu, mobilitas masyarakat dan pemulihan sektor pariwisata turut mendukung pertumbuhan pada sektor akomodasi dan makan minum.

Pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen menunjukkan aktivitas ekonomi domestik tetap terjaga di tengah dinamika global, termasuk ketidakpastian harga komoditas dan perlambatan ekonomi dunia. Namun, kontraksi secara triwulanan menjadi sinyal perlunya menjaga kesinambungan konsumsi dan investasi agar momentum pertumbuhan tetap stabil sepanjang tahun.

Pemerintah disebut akan terus memperkuat belanja produktif, menjaga stabilitas harga, serta mendorong investasi dan hilirisasi industri guna mempertahankan pertumbuhan ekonomi nasional pada 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *