Jakarta – Badan Gizi Nasional menghentikan sementara operasional sekitar 240 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di berbagai daerah karena belum memenuhi standar kelayakan dan kesehatan yang ditetapkan.
Kepala BGN Dadan Hindayana mengatakan penghentian sementara dilakukan sebagai langkah evaluasi dan perbaikan agar layanan MBG tetap berjalan sesuai standar keamanan pangan.
“Sekarang sudah ada 240-an yang kita suspend atau dihentikan sementara, karena ada hal-hal yang harus dipenuhi,” ujar Dadan saat meresmikan SPPG di Citaringgul, Senin.
Menurutnya, sejumlah SPPG belum memenuhi persyaratan seperti Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) dari Dinas Kesehatan, kondisi dapur yang terlalu sempit, hingga tata ruang yang berpotensi menyebabkan kontaminasi silang dalam proses pengolahan makanan.
“Ada juga yang ruangannya harus dimodifikasi supaya tidak disilang terkontaminasi, ada juga beberapa ruangannya terlalu kecil,” katanya.
BGN menegaskan SLHS menjadi syarat wajib bagi seluruh dapur MBG. Jika dalam satu bulan sertifikat belum diterbitkan, operasional SPPG dapat dihentikan sementara sampai seluruh persyaratan dipenuhi.
Meski ada penghentian sementara, BGN memastikan evaluasi ini merupakan bagian dari peningkatan kualitas Program MBG secara nasional. Hingga kini, tercatat sekitar 28.390 SPPG telah beroperasi di seluruh Indonesia dan melayani sekitar 62 juta penerima manfaat.
Dalam kesempatan itu, Dadan juga menyebut program MBG mulai menunjukkan dampak positif terhadap pola konsumsi anak-anak.
“Bahkan, ada beberapa yang tidak suka sayur jadi suka sayur, saya kira ini tren yang bagus,” ujarnya.
