TNI AL dan Tim SAR Gabungan Temukan Satu Korban Tenggelam di Perairan PLTU Gresik

GRESIK, 4 Mei 2026 — Pos Pengamatan Keamanan Laut Terpadu (Poskamladu) Lumpur Gresik di bawah jajaran Pangkalan TNI Angkatan Laut Batuporon bersama Tim SAR Gabungan melanjutkan operasi pencarian korban kecelakaan laut di perairan sekitar PLTU Gresik, Jawa Timur, memasuki hari kedua pada Senin (4/5/2026). Dalam operasi tersebut, satu korban berhasil ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, sementara satu korban lainnya masih dalam pencarian.

Kecelakaan laut terjadi di titik koordinat 7°09’39,8″ LS – 112°40’8,44″ BT dan diduga dipicu oleh perahu nelayan yang melebihi kapasitas muatan. Kondisi diperparah oleh gelombang dari kapal besar yang melintas sehingga air masuk ke dalam perahu hingga akhirnya tenggelam.

Operasi pencarian dimulai dengan apel gabungan di Dermaga Kayu Lumpur yang dipimpin Komandan Poskamladu Lumpur Suwito Agus Diyan. Tim gabungan melibatkan Satpolairud Polres Gresik, Basarnas, BPBD Jawa Timur, BPBD Gresik, kelompok nelayan, dan masyarakat setempat.

Sekitar pukul 08.30 WIB, dua nelayan saksi, Yusuf dan Abdul Alim, menemukan jenazah terapung di koordinat 07°10’32,78″ LS – 112°40’8,44″ BT. Tim SAR kemudian melakukan evakuasi terhadap korban yang teridentifikasi bernama Halimi dan membawa jenazah ke RSUD Ibnu Sina Gresik untuk penanganan lebih lanjut.

Penyisiran dilanjutkan dengan memperluas area pencarian menuju Pelabuhan Umum Gresik, Pelabuhan Semen Gresik, dan kawasan sekitar PLTU menggunakan perahu karet Basarnas, kapal patroli Satpolairud, serta armada nelayan setempat. Namun hingga pukul 16.30 WIB, korban lain bernama H. Ajib (60) belum ditemukan.

Komandan Lanal Batuporon Ari Wibowo menegaskan TNI AL akan terus mendukung operasi kemanusiaan hingga seluruh korban ditemukan. “Kami terus berkoordinasi erat dengan seluruh instansi terkait. Kami juga mengimbau dengan tegas kepada rekan-rekan nelayan agar selalu mengutamakan keselamatan: perhatikan batas muatan, selalu gunakan life jacket, dan tetap waspada terhadap kondisi cuaca serta lalu lintas kapal besar di perairan,” ujarnya.

Kecelakaan laut yang melibatkan nelayan masih kerap terjadi di sejumlah wilayah pesisir Indonesia, terutama akibat faktor cuaca, kapasitas muatan berlebih, serta minimnya perlengkapan keselamatan. Jalur pelayaran yang padat di kawasan industri dan pelabuhan juga meningkatkan risiko kecelakaan bagi kapal nelayan kecil.

Dari sisi dampak, insiden ini kembali menyoroti pentingnya standar keselamatan pelayaran bagi nelayan tradisional, termasuk penggunaan alat keselamatan dan pengawasan kapasitas muatan kapal. Koordinasi lintas instansi dalam operasi SAR juga dinilai penting untuk mempercepat penanganan korban di laut.

Ke depan, operasi pencarian akan dilanjutkan dengan fokus pada titik-titik yang diperkirakan menjadi jalur hanyut korban. TNI AL bersama Basarnas dan instansi terkait juga akan memperkuat sosialisasi keselamatan pelayaran kepada masyarakat pesisir guna mencegah kejadian serupa terulang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *