Pakar Unair Ingatkan Potensi “Godzilla” El Nino 2026, Pemerintah Diminta Percepat Mitigasi Air dan Pangan

SURABAYA – Pakar Manajemen Bencana Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Hijrah Saputra memperingatkan potensi menguatnya fenomena El Nino “Godzilla” pada 2026 yang berisiko memicu kekeringan ekstrem di Indonesia. Peringatan ini disampaikan menyusul laporan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Amerika Serikat yang mencatat peluang kemunculan El Nino mencapai 62 persen pada periode Juni–Agustus 2026, di tengah meningkatnya risiko krisis iklim global.

Hijrah menyebut El Nino dalam kategori ekstrem memiliki dampak jauh lebih berat dibanding fenomena El Nino pada umumnya. “El Nino biasa seperti demam 38 derajat, sedangkan El Nino Godzilla bisa diibaratkan 40 derajat atau lebih,” kata Hijrah dalam keterangannya, Senin (27/4/2026).

Ia menjelaskan, secara ilmiah fenomena ini terjadi akibat melemahnya angin pasat yang mendorong pergeseran massa air laut hangat ke wilayah Pasifik tengah dan timur. Kondisi tersebut meningkatkan suhu permukaan laut hingga 1,5–2,5 derajat Celsius di atas normal, sehingga menggeser pusat pembentukan awan hujan menjauh dari wilayah Indonesia.

“Secara teknis, kekuatan fenomena ini diukur melalui Oceanic Niño Index (ONI). El Nino kategori lemah berada pada 0,5–0,9, sedangkan kategori ekstrem berada di atas angka 2,” ujarnya.

Dari sisi global, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) turut memprediksi potensi El Nino 2026 dapat mencapai intensitas tinggi dan mendekati rekor terkuat dalam sejarah pengamatan. Kondisi ini dinilai berpotensi memperburuk musim kemarau di sejumlah wilayah Indonesia.

Hijrah menambahkan, dampak El Nino tidak hanya terbatas pada kekeringan, tetapi juga dapat meluas pada krisis air bersih, meningkatnya kebakaran hutan dan lahan, gangguan ketahanan pangan, hingga kontribusi terhadap peningkatan emisi karbon dioksida secara global.

Untuk mengurangi risiko tersebut, ia menekankan empat langkah mitigasi utama yang perlu segera dilakukan, yakni optimalisasi cadangan air melalui pengisian bendungan, modifikasi cuaca dengan hujan buatan di wilayah rawan, percepatan masa tanam, serta diversifikasi komoditas pangan.

“Langkah-langkah ini penting agar dampak El Nino dapat diminimalkan, terutama di sektor air dan pangan,” kata Hijrah.

Dari sisi kebijakan, para ahli menilai pemerintah perlu memperkuat koordinasi lintas sektor dalam menghadapi potensi perubahan iklim ekstrem ini, terutama pada pengelolaan sumber daya air dan sistem produksi pangan nasional.

Mitigasi yang disiapkan diharapkan tidak hanya bersifat responsif, tetapi juga berbasis data klimatologi jangka panjang, mengingat El Nino “Godzilla” diproyeksikan memiliki dampak yang lebih luas dibanding fenomena serupa pada tahun-tahun sebelumnya.

Pemerintah bersama lembaga terkait seperti BMKG, BRIN, dan kementerian teknis diharapkan segera mempercepat langkah antisipasi, termasuk kesiapan infrastruktur air dan ketahanan pangan, sebelum puncak musim kemarau 2026 berlangsung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *