BIAK NUMFOR – Sedikitnya lima orang dilaporkan meninggal dunia akibat ledakan yang diduga berasal dari bom peninggalan Perang Dunia II di kawasan Kompleks Perikanan Pandoi, Kabupaten Biak Numfor, Papua, Minggu (31/5/2026). Aparat gabungan TNI dan Polri langsung menutup area kejadian serta melakukan penyisiran intensif untuk mengantisipasi kemungkinan masih adanya bahan peledak aktif di lokasi.
Kapendam XVII/Cenderawasih Kolonel Inf Tri Purwanto mengatakan hasil indikasi awal menunjukkan ledakan berasal dari bahan peledak peninggalan Perang Dunia II yang masih banyak ditemukan di sejumlah wilayah Biak. Kabupaten Biak Numfor diketahui merupakan salah satu lokasi pertempuran strategis antara pasukan Sekutu dan Jepang di kawasan Pasifik pada masa perang.
“Indikasi awal mengarah pada bahan peledak peninggalan Perang Dunia II yang selama ini masih ditemukan di sejumlah wilayah Biak,” ujar Kolonel Inf Tri Purwanto dalam keterangannya.
Menyusul insiden tersebut, aparat gabungan TNI-Polri bersama tim penjinak bom segera mengamankan lokasi dan melakukan proses sterilisasi menyeluruh. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan tidak ada bahan peledak lain yang masih aktif dan berpotensi membahayakan masyarakat.
“Kami meminta masyarakat tidak mendekati lokasi kejadian karena area tersebut masih dalam proses sterilisasi dan belum sepenuhnya aman,” tegas Tri Purwanto.
Selain melakukan pengamanan, tim gabungan juga masih melakukan pencarian terhadap sejumlah korban yang dilaporkan belum ditemukan. Aparat bersama unsur teknis terkait bekerja secara hati-hati mengingat kemungkinan masih terdapat amunisi atau bahan peledak yang tertanam di sekitar lokasi ledakan.
Menurut Tri Purwanto, karakteristik bahan peledak peninggalan perang memiliki tingkat risiko tinggi karena meskipun telah terkubur selama puluhan tahun, sebagian masih dapat aktif dan meledak apabila mengalami benturan, tekanan, atau gangguan lainnya.
Kodam XVII/Cenderawasih juga mengimbau masyarakat untuk segera melaporkan kepada aparat keamanan apabila menemukan benda mencurigakan yang diduga merupakan sisa-sisa perang. Warga diminta tidak menyentuh, memindahkan, membongkar, ataupun mencoba mengamankan benda tersebut secara mandiri.
Biak Numfor memiliki sejarah panjang sebagai salah satu titik penting dalam Perang Dunia II di kawasan Pasifik. Pada 1944, wilayah ini menjadi lokasi pertempuran besar dalam Operasi Biak antara pasukan Sekutu dan Jepang. Banyaknya peninggalan perang berupa bunker, amunisi, granat, hingga bom udara masih ditemukan hingga saat ini di sejumlah lokasi, baik di daratan maupun perairan sekitar Biak.
Dalam beberapa dekade terakhir, aparat keamanan dan pemerintah daerah telah berulang kali melakukan operasi pembersihan bahan peledak sisa perang. Namun luasnya area bekas pertempuran menyebabkan masih ditemukan berbagai jenis amunisi yang tertimbun di dalam tanah maupun terbawa aktivitas masyarakat.
Insiden di Kompleks Perikanan Pandoi kembali menjadi pengingat bahwa ancaman dari sisa konflik masa lalu masih nyata. Selain menimbulkan korban jiwa, keberadaan bahan peledak aktif juga berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat, khususnya di wilayah pesisir yang banyak dimanfaatkan untuk perikanan dan pembangunan fasilitas umum.
Dari sisi sosial, kejadian ini diperkirakan mendorong peningkatan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya bahan peledak peninggalan perang. Pemerintah daerah bersama aparat keamanan diharapkan memperkuat sosialisasi serta pemetaan lokasi-lokasi yang berpotensi masih menyimpan amunisi aktif guna mencegah kejadian serupa terulang.
Ke depan, TNI, Polri, dan instansi terkait akan melanjutkan proses sterilisasi kawasan, identifikasi penyebab pasti ledakan, serta evaluasi terhadap wilayah-wilayah yang diduga masih menyimpan bahan peledak peninggalan Perang Dunia II. Hasil investigasi dan pendataan lanjutan akan menjadi dasar penyusunan langkah mitigasi untuk meningkatkan keselamatan masyarakat di Kabupaten Biak Numfor.
