BANDA ACEH — Badan Nasional Penanggulangan Bencana akan melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Aceh guna mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi, menyusul peringatan dini cuaca ekstrem dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika untuk periode 11–20 April 2026. Langkah ini dilakukan setelah curah hujan tinggi pada 8–10 April memicu banjir, tanah longsor, dan kerusakan infrastruktur di sejumlah wilayah, khususnya di Aceh Tengah.
Perwakilan BNPB Brigadir Jenderal Ismed mengatakan operasi akan dilakukan dengan menyemai awan di titik-titik tertentu menggunakan pesawat yang telah disiagakan di Lanud Sultan Iskandar Muda.
“Dengan adanya kejadian tersebut, kami dari BNPB atas perintah Kepala BNPB akan melaksanakan OMC atau Operasi Modifikasi Cuaca,” ujar Ismed, Senin (13/4/2026).
Ia menjelaskan, penyemaian awan bertujuan mengalihkan potensi hujan agar tidak turun di wilayah rawan bencana.
“Nanti ada titik-titik yang akan disemai oleh tim OMC di SIM, sehingga awan-awan yang berpotensi hujan tidak jatuh di wilayah Aceh Tengah,” kata dia.
Sementara itu, Kepala Pos Komando Wilayah Aceh Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR), Safrizal ZA, meminta seluruh pemerintah daerah di 23 kabupaten/kota meningkatkan kewaspadaan. Ia menegaskan peringatan dini BMKG harus menjadi acuan utama dalam langkah mitigasi.
“Belajar dari peringatan sebelumnya, kita harus jauh lebih waspada. Fokus kita adalah meminimalisir risiko, atau bahkan mengejar target zero risk,” ujarnya.
BMKG sebelumnya mengidentifikasi potensi cuaca ekstrem dipicu oleh pola siklonik dan suhu muka laut yang hangat di perairan barat Aceh. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan hujan lebat disertai angin kencang dan petir dalam dua fase, yakni 11–15 April dan 16–20 April 2026.
Secara historis, Aceh pernah mengalami bencana serupa pada November 2025, ketika hujan ekstrem menyebabkan banjir besar di 18 kabupaten/kota, memicu pengungsian massal dan kerusakan infrastruktur. Pengalaman tersebut menjadi dasar pemerintah memperkuat sistem mitigasi dan respons dini terhadap potensi bencana berulang.
Pelaksanaan OMC dinilai dapat mengurangi intensitas curah hujan di wilayah rawan, sehingga menekan risiko banjir dan longsor. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada kondisi atmosfer serta koordinasi lintas lembaga. Bagi masyarakat, langkah ini diharapkan mampu meminimalkan dampak kerusakan, menjaga aktivitas ekonomi, serta melindungi keselamatan jiwa di daerah rawan bencana.
Ke depan, BNPB bersama pemerintah daerah akan terus memantau perkembangan cuaca dan melakukan evaluasi berkala terhadap pelaksanaan OMC. Pemerintah juga memastikan kesiapan logistik, jalur evakuasi, serta sistem komunikasi hingga tingkat desa guna mempercepat respons jika terjadi bencana.
