Pemerintah Tegaskan Fundamental Ekonomi Indonesia Tetap Kuat di Tengah Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah

JAKARTA – Pemerintah menegaskan fundamental perekonomian Indonesia tetap berada dalam kondisi yang kuat meskipun nilai tukar rupiah sempat menyentuh kisaran Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Berbagai indikator makroekonomi, mulai dari pertumbuhan ekonomi, inflasi, neraca perdagangan, hingga sektor perbankan, dinilai masih mampu menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah dinamika global.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih menunjukkan kinerja positif. Berdasarkan data terbaru, pertumbuhan ekonomi tercatat mencapai 5,61 persen, sementara neraca perdagangan secara kumulatif tahun berjalan (year to date) masih berada pada posisi surplus.

“Kalau kita lihat, pertumbuhan ekonomi kemarin masih baik di 5,61 persen. Kemudian, neraca perdagangan secara year to date juga masih positif,” ujar Airlangga.

Menurut Airlangga, defisit neraca perdagangan yang sempat terjadi dalam satu bulan terakhir terutama dipengaruhi oleh meningkatnya impor bahan bakar minyak (BBM). Namun demikian, kinerja ekspor sejumlah komoditas unggulan Indonesia seperti kelapa sawit, batu bara, dan ferro alloy masih terjaga dan diharapkan tetap menjadi penopang pertumbuhan ekonomi nasional.

Pemerintah juga memastikan stabilitas harga tetap terjaga dengan tingkat inflasi yang berada pada sasaran 2,5 persen ±1 persen. Untuk memperkuat daya saing industri nasional, pemerintah menyiapkan berbagai insentif, termasuk pembebasan bea masuk impor bahan baku plastik bagi industri kimia melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) serta pemberlakuan bea masuk nol persen untuk impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) sebagai bahan baku industri petrokimia selama enam bulan.

Selain kebijakan fiskal tersebut, berbagai program strategis pemerintah seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan program kredit perumahan juga terus berjalan guna mendukung aktivitas ekonomi, memperkuat sektor usaha produktif, serta menjaga daya beli masyarakat.

Airlangga menambahkan, prospek ekonomi Indonesia masih memperoleh penilaian positif dari berbagai lembaga internasional. World Bank, International Monetary Fund (IMF), dan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) masih memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5 persen, mencerminkan keyakinan terhadap ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.

“Dari berbagai lembaga, baik World Bank, IMF, maupun OECD, pertumbuhan ekonomi kita masih di kisaran 5 persen. Jadi, secara umum mereka menilai perekonomian Indonesia relatif aman dan solid,” kata Airlangga.

Pemerintah menegaskan akan terus menjaga stabilitas ekonomi melalui penguatan sektor riil, pemberian insentif bagi dunia usaha, pengendalian inflasi, serta penguatan daya saing industri agar pertumbuhan ekonomi tetap berkelanjutan dan mampu menghadapi berbagai tantangan ekonomi global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *