TNI AL Bongkar Dugaan Jaringan Penyelundupan Timah, 75,7 Ton Barang Bukti Senilai Rp76 Miliar Diamankan
Budi Antoni
Editor: Budi Antoni
Diperbarui: 20 Agu 2026, 14.42

Panglima Komando Armada Republik Indonesia (Pangkoarmada RI) Laksamana Madya TNI Denih Hendrata mengatakan pengungkapan tersebut merupakan hasil sinergi intelijen dan unsur penindakan maritim TNI AL dalam menelusuri dugaan pengiriman timah ilegal menuju Malaysia.
“Sinergi dan kesungguhan seluruh unsur tim gabungan TNI Angkatan Laut telah berhasil mengungkap rangkaian kegiatan yang diduga merupakan upaya penyelundupan pasir timah menuju Malaysia,” kata Denih di Pos TNI AL Mendanau, Tanjungpandan, Rabu (19/8/2026).
Berawal dari Informasi Intelijen
Operasi bermula pada 2 Agustus 2026 sekitar pukul 19.00 WIB, ketika petugas memperoleh informasi mengenai aktivitas mencurigakan di Dermaga Pasir PT Prima Budiarta Nusa, Desa Lilangan, Kecamatan Simpang Pesak, Belitung Timur.
Petugas kemudian mengamankan satu truk bermuatan sekitar delapan ton pasir timah serta tiga orang yang diduga terlibat dalam pemindahan muatan menuju kapal cepat.
Temuan tersebut dikembangkan ke sejumlah lokasi. Pada 3 Agustus, petugas menemukan sekitar 50 ton pasir timah di sebuah gudang di Desa Lenggang, Kecamatan Gantung. Sehari kemudian, sekitar 10 ton lainnya ditemukan dalam 200 karung di sebuah ruko di Desa Batu Penyu.
Pada 8 Agustus, tim kembali mengamankan 100 karung atau sekitar lima ton pasir timah di wilayah Tanjungpandan. Kemudian pada 13 Agustus, sebanyak 56 karung dengan berat sekitar 2,7 ton disita dari sebuah rumah sewa di Desa Dukong.
Dari keseluruhan rangkaian tersebut, jumlah pasir timah yang diamankan mencapai 75,7 ton.
Senjata Rakitan hingga Alat Isap Narkoba Ditemukan
Pengembangan operasi pada 16 Agustus juga menghasilkan temuan lain. Satgassus Timah Pusintelal bersama Satgas Intel Lanal Bangka Belitung menemukan sebuah kendaraan double cabin dalam kondisi terbalik tanpa pengemudi.
Di kendaraan tersebut, petugas menemukan satu pucuk senjata api rakitan jenis FN, lima butir amunisi tajam kaliber 9 milimeter, lima karung pasir timah siap kirim, satu alat isap sabu yang disebut berisi sisa narkoba, serta satu bilah parang.
Temuan tersebut menjadi bagian dari barang bukti yang selanjutnya dapat didalami aparat berwenang untuk mengungkap keterkaitan pihak-pihak yang diduga terlibat.
Jaga Sumber Daya Strategis Nasional
Menurut Denih, berdasarkan perhitungan TNI AL, nilai potensi kerugian negara yang berhasil diselamatkan dari pengamanan 75,7 ton pasir timah tersebut diperkirakan mencapai Rp76,041 miliar.
Pengungkapan ini menunjukkan pentingnya pengawasan terhadap jalur distribusi komoditas tambang strategis, terutama di wilayah kepulauan yang memiliki akses langsung menuju jalur pelayaran internasional.
Penindakan terhadap dugaan penyelundupan timah juga menjadi bagian dari upaya melindungi sumber daya alam Indonesia sekaligus memastikan pemanfaatan dan perdagangan komoditas tambang berlangsung melalui mekanisme yang sah.
Seluruh barang bukti yang diamankan menjadi dasar bagi pengembangan penyelidikan lebih lanjut untuk menelusuri jaringan, jalur distribusi, serta pihak-pihak yang diduga terlibat dalam aktivitas tersebut.
Menemukan informasi yang perlu diperbaiki?
Sampaikan bukti dan bagian artikel yang dimaksud kepada redaksi.
Bacaan Lanjutan
Artikel Terkait

KRI Bung Hatta-370 Salurkan Bantuan untuk 1.913 Pengungsi Gempa di Manggarai
MANGGARAI, 17 AGUSTUS 2026 — TNI Angkatan Laut melalui KRI Bung Hatta-370 menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada masyarakat terdampak gempa magnitudo 7,7 di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), setel

Koops TNI Habema Resmikan Hitadipa sebagai Kampung Papua Damai, Perkuat Akses dan Kesejahteraan Warga
INTAN JAYA, 17 AGUSTUS 2026 — Komando Operasi TNI Habema bersama masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, dan pemerintah setempat mendeklarasikan sekaligus meresmikan Kampung Hitadipa, Distrik Hitadipa, Kabupaten I

TNI Kerahkan 1.201 Personel dan 29 Alutsista, Salurkan 122 Ton Bantuan untuk Korban Gempa NTT
JAKARTA, 18 AGUSTUS 2026 — Tentara Nasional Indonesia (TNI) mengerahkan 1.201 personel dan 29 alat utama sistem persenjataan (alutsista) untuk mempercepat penanganan dampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NT
