Satu Suara Bangsa

Rupiah Melemah, Pariwisata Indonesia Berpeluang Raup Lebih Banyak Wisatawan Asing dan Devisa

Budi Antoni

Editor: Redaksi Satu Suara Bangsa

30 Mei 2026, 13.3963 dibaca

Diperbarui: 6 Agu 2026, 07.22

Rupiah Melemah, Pariwisata Indonesia Berpeluang Raup Lebih Banyak Wisatawan Asing dan Devisa
Dokumentasi Satu Suara Bangsa Rupiah Melemah, Pariwisata Indonesia Berpeluang Raup Lebih Banyak Wisatawan Asing dan Devisa

JAKARTA – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dinilai membuka peluang baru bagi sektor pariwisata nasional. Kondisi kurs yang lebih rendah membuat biaya berwisata di Indonesia menjadi lebih kompetitif bagi wisatawan mancanegara, sehingga berpotensi meningkatkan jumlah kunjungan turis asing serta mendongkrak penerimaan devisa negara.

Pengamat sekaligus Dosen Pariwisata Universitas Negeri Jakarta, Khrisnamurti, mengatakan bahwa faktor harga masih menjadi salah satu pertimbangan utama wisatawan dalam menentukan destinasi perjalanan. Karena itu, pelemahan rupiah dapat meningkatkan daya saing Indonesia dibandingkan sejumlah negara tujuan wisata lainnya.

“Dalam pariwisata, harga adalah salah satu faktor yang cukup krusial yang bisa memengaruhi keputusan wisatawan,” ujar Khrisnamurti, Jumat (29/5/2026).

Menurutnya, wisatawan asing cenderung memilih destinasi yang menawarkan nilai lebih tinggi terhadap pengeluaran mereka. Dengan kurs rupiah yang lebih rendah, wisatawan berpotensi menikmati masa tinggal yang lebih lama serta meningkatkan belanja selama berada di Indonesia.

Khrisnamurti menjelaskan bahwa pasar wisatawan dari negara-negara yang memiliki konektivitas kuat dengan Indonesia diperkirakan tetap menjadi kontributor utama kunjungan wisatawan mancanegara. Malaysia, Singapura, dan Australia disebut sebagai negara yang memiliki potensi besar untuk meningkatkan jumlah kunjungan dalam kondisi saat ini.

“Malaysia dan Singapura kuat karena dekat, mudah diakses, dan banyak perjalanan regional,” katanya.

Sementara itu, wisatawan asal Australia masih menjadikan Bali sebagai salah satu destinasi favorit karena telah memiliki reputasi kuat sebagai tujuan wisata internasional. Di sisi lain, Jakarta dan Bandung juga mulai menarik minat wisatawan regional, terutama berkat promosi digital dan perkembangan sektor ekonomi kreatif.

Peluang peningkatan kunjungan wisatawan asing tersebut dinilai dapat memberikan dampak positif terhadap berbagai sektor ekonomi, mulai dari perhotelan, restoran, transportasi, usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), hingga industri kreatif yang menjadi penopang utama pariwisata nasional.

Meski demikian, Khrisnamurti mengingatkan bahwa daya tarik harga harus tetap didukung dengan peningkatan kualitas layanan, kebersihan destinasi, keamanan, serta kemudahan akses transportasi agar manfaat yang diperoleh dapat berlangsung secara berkelanjutan.

“Kita perlu hati-hati, karena dampaknya tidak selalu langsung,” ujarnya.

Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia, Azril Azahari, juga menilai sektor pariwisata harus terus memperkuat daya saing di tengah perubahan tren perjalanan global. Menurutnya, wisatawan saat ini tidak hanya mempertimbangkan biaya perjalanan, tetapi juga kualitas pengalaman yang diperoleh selama berkunjung.

Meski terdapat sejumlah tantangan, peluang peningkatan kunjungan wisatawan asing tetap terbuka lebar apabila didukung oleh promosi yang tepat, konektivitas yang semakin baik, serta pengembangan destinasi yang berkelanjutan.

Pemerintah sendiri terus mendorong sektor pariwisata sebagai salah satu sumber pertumbuhan ekonomi nasional dan penghasil devisa utama. Dengan kombinasi daya saing harga, kekayaan destinasi wisata, serta dukungan kebijakan pemerintah, Indonesia berpeluang memanfaatkan momentum pelemahan rupiah untuk menarik lebih banyak wisatawan mancanegara dan memperkuat perekonomian nasional.

Menemukan informasi yang perlu diperbaiki?

Sampaikan bukti dan bagian artikel yang dimaksud kepada redaksi.

Lapor Kesalahan

Bacaan Lanjutan

Artikel Terkait

Dokumentasi EKONOMI
EKONOMI23 Agu 2026 · 20.28Oleh Budi Antoni

Indonesia-Jerman Percepat Investasi EBT dan Jaringan Listrik

JAKARTA, 19 AGUSTUS 2026 — Pemerintah Indonesia dan Jerman memperkuat kerja sama untuk mempercepat investasi energi baru dan terbarukan (EBT) serta modernisasi jaringan listrik. Langkah ini menjadi bagian dari

Baca selengkapnya
Dokumentasi EKONOMI
EKONOMI23 Agu 2026 · 14.20Oleh Budi Antoni

Alokasi Dana Desa Rp77 Triliun Ditargetkan Perkuat Pengembangan Kopdes

JAKARTA, 22 AGUSTUS 2026 — Pemerintah memproyeksikan alokasi Dana Desa mencapai Rp77 triliun pada tahun anggaran 2027 guna mempercepat transformasi ekonomi dan penguatan kapasitas usaha Koperasi Desa (Kopdes) M

Baca selengkapnya