Purbaya Pastikan Kondisi Ekonomi RI Berbeda dari Krisis 1998 Meski Rupiah Sentuh Rp17.600 per Dollar AS
Budi Antoni
Editor: Redaksi Satu Suara Bangsa
Diperbarui: 20 Jul 2026, 18.59

JAKARTA — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan kondisi ekonomi Indonesia saat ini berbeda dengan krisis moneter 1997–1998 meski nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) terus mengalami pelemahan hingga menembus level Rp17.600 per dollar AS pada perdagangan Senin (18/5/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan Purbaya di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, saat menanggapi pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan kekhawatiran pasar terhadap kondisi rupiah yang dinilai menyerupai krisis 1998.
“Ini kan banyak sentimen (IHSG melemah), kalau rupiah melemah seolah-olah kita akan bergerak seperti 1997-1998 lagi. Beda, 1997-1998 itu kebijakannya salah dan instability sosial politik terjadi setelah setahun kita resesi. 1997 pertengahan itu kita sudah resesi,” kata Purbaya, Senin.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG pada perdagangan preopening Senin pagi turun 94,344 poin atau 1,40 persen ke level 6.628,976. Sementara itu, data Reuters menunjukkan rupiah berada di posisi Rp17.645 per dollar AS atau melemah 1,17 persen dibanding perdagangan sebelumnya.
Posisi tersebut menjadi level terlemah rupiah secara intraday di pasar spot dan mencetak rekor pelemahan baru sepanjang sejarah perdagangan rupiah.
Meski demikian, Purbaya menilai fundamental ekonomi nasional masih relatif kuat karena Indonesia belum memasuki fase resesi seperti yang terjadi menjelang krisis 1998.
“Kita kan sekarang belum resesi, ekonomi masih tumbuh kencang. Jadi masih ada ruang untuk memperbaiki semuanya,” ujarnya.
Ia juga meminta pelaku pasar dan investor tidak bereaksi berlebihan terhadap tekanan pasar keuangan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Menurut dia, koreksi pasar masih dipengaruhi sentimen global dan psikologis investor.
“Kalau saya bilang jangan takut, serok bawah sekarang. Kalau saya lihat teknikalnya, sehari dua hari sudah balik. Jadi jangan lupa beli saham,” tegas Purbaya.
Pelemahan rupiah kali ini memunculkan kembali perbandingan dengan krisis moneter Asia 1997–1998 ketika nilai tukar rupiah sempat anjlok hingga sekitar Rp17.000 per dollar AS dan memicu gejolak ekonomi serta sosial politik nasional.
Namun, pemerintah menilai situasi saat ini berbeda karena pertumbuhan ekonomi Indonesia masih positif dan sektor keuangan dinilai lebih siap menghadapi tekanan global.
Data Bloomberg mencatat kurs rupiah di pasar spot terdepresiasi 77 poin ke posisi Rp17.674 per dollar AS pada perdagangan Senin siang pukul 12.17 WIB.
Secara year to date (YTD), rupiah telah melemah sekitar 5,99 persen sejak awal 2026. Jika dibandingkan dengan Oktober 2024, depresiasi rupiah tercatat mencapai sekitar 12 persen dari level Rp15.400 per dollar AS menjadi berada di kisaran Rp17.600 per dollar AS saat ini.
Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah penguatan dollar AS global, ketidakpastian geopolitik internasional, serta arus keluar modal asing dari pasar negara berkembang.
Sebelumnya, Bank Indonesia juga menyatakan nilai tukar rupiah masih memiliki peluang untuk kembali menguat pada triwulan III 2026 seiring langkah stabilisasi moneter dan penguatan koordinasi kebijakan fiskal pemerintah.
Pemerintah bersama Bank Indonesia saat ini terus menyiapkan berbagai langkah stabilisasi, termasuk menjaga pasar obligasi domestik, memperkuat cadangan devisa, serta menjaga kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia di tengah tekanan global yang masih tinggi.
Menemukan informasi yang perlu diperbaiki?
Sampaikan bukti dan bagian artikel yang dimaksud kepada redaksi.
Bacaan Lanjutan
Artikel Terkait

Bank Mandiri Klarifikasi Pemblokiran Rekening AMPB Tegaskan Kepatuhan Prosedur Hukum dan Layanan Nasabah
JAKARTA, 24 AGUSTUS 2026 — PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menyampaikan penjelasan resmi terkait langkah pemblokiran rekening milik koordinator aksi Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), Supriyono alias Botok.

Indonesia-Jerman Percepat Investasi EBT dan Jaringan Listrik
JAKARTA, 19 AGUSTUS 2026 — Pemerintah Indonesia dan Jerman memperkuat kerja sama untuk mempercepat investasi energi baru dan terbarukan (EBT) serta modernisasi jaringan listrik. Langkah ini menjadi bagian dari

Alokasi Dana Desa Rp77 Triliun Ditargetkan Perkuat Pengembangan Kopdes
JAKARTA, 22 AGUSTUS 2026 — Pemerintah memproyeksikan alokasi Dana Desa mencapai Rp77 triliun pada tahun anggaran 2027 guna mempercepat transformasi ekonomi dan penguatan kapasitas usaha Koperasi Desa (Kopdes) M
