Pemerintah Tegaskan Fundamental Ekonomi Indonesia Tetap Kuat di Tengah Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah
Budi Antoni
Editor: Redaksi Satu Suara Bangsa
Diperbarui: 22 Jul 2026, 15.16

JAKARTA – Pemerintah menegaskan fundamental perekonomian Indonesia tetap berada dalam kondisi yang kuat meskipun nilai tukar rupiah sempat menyentuh kisaran Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Berbagai indikator makroekonomi, mulai dari pertumbuhan ekonomi, inflasi, neraca perdagangan, hingga sektor perbankan, dinilai masih mampu menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah dinamika global.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih menunjukkan kinerja positif. Berdasarkan data terbaru, pertumbuhan ekonomi tercatat mencapai 5,61 persen, sementara neraca perdagangan secara kumulatif tahun berjalan (year to date) masih berada pada posisi surplus.
"Kalau kita lihat, pertumbuhan ekonomi kemarin masih baik di 5,61 persen. Kemudian, neraca perdagangan secara year to date juga masih positif," ujar Airlangga.
Menurut Airlangga, defisit neraca perdagangan yang sempat terjadi dalam satu bulan terakhir terutama dipengaruhi oleh meningkatnya impor bahan bakar minyak (BBM). Namun demikian, kinerja ekspor sejumlah komoditas unggulan Indonesia seperti kelapa sawit, batu bara, dan ferro alloy masih terjaga dan diharapkan tetap menjadi penopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Pemerintah juga memastikan stabilitas harga tetap terjaga dengan tingkat inflasi yang berada pada sasaran 2,5 persen ±1 persen. Untuk memperkuat daya saing industri nasional, pemerintah menyiapkan berbagai insentif, termasuk pembebasan bea masuk impor bahan baku plastik bagi industri kimia melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) serta pemberlakuan bea masuk nol persen untuk impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) sebagai bahan baku industri petrokimia selama enam bulan.
Selain kebijakan fiskal tersebut, berbagai program strategis pemerintah seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan program kredit perumahan juga terus berjalan guna mendukung aktivitas ekonomi, memperkuat sektor usaha produktif, serta menjaga daya beli masyarakat.
Airlangga menambahkan, prospek ekonomi Indonesia masih memperoleh penilaian positif dari berbagai lembaga internasional. World Bank, International Monetary Fund (IMF), dan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) masih memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5 persen, mencerminkan keyakinan terhadap ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
"Dari berbagai lembaga, baik World Bank, IMF, maupun OECD, pertumbuhan ekonomi kita masih di kisaran 5 persen. Jadi, secara umum mereka menilai perekonomian Indonesia relatif aman dan solid," kata Airlangga.
Pemerintah menegaskan akan terus menjaga stabilitas ekonomi melalui penguatan sektor riil, pemberian insentif bagi dunia usaha, pengendalian inflasi, serta penguatan daya saing industri agar pertumbuhan ekonomi tetap berkelanjutan dan mampu menghadapi berbagai tantangan ekonomi global.
Menemukan informasi yang perlu diperbaiki?
Sampaikan bukti dan bagian artikel yang dimaksud kepada redaksi.
Bacaan Lanjutan
Artikel Terkait

Bank Mandiri Klarifikasi Pemblokiran Rekening AMPB Tegaskan Kepatuhan Prosedur Hukum dan Layanan Nasabah
JAKARTA, 24 AGUSTUS 2026 — PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menyampaikan penjelasan resmi terkait langkah pemblokiran rekening milik koordinator aksi Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), Supriyono alias Botok.

Indonesia-Jerman Percepat Investasi EBT dan Jaringan Listrik
JAKARTA, 19 AGUSTUS 2026 — Pemerintah Indonesia dan Jerman memperkuat kerja sama untuk mempercepat investasi energi baru dan terbarukan (EBT) serta modernisasi jaringan listrik. Langkah ini menjadi bagian dari

Alokasi Dana Desa Rp77 Triliun Ditargetkan Perkuat Pengembangan Kopdes
JAKARTA, 22 AGUSTUS 2026 — Pemerintah memproyeksikan alokasi Dana Desa mencapai Rp77 triliun pada tahun anggaran 2027 guna mempercepat transformasi ekonomi dan penguatan kapasitas usaha Koperasi Desa (Kopdes) M
