Menlu Sugiono Desak PBB Evaluasi Keselamatan Pasukan UNIFIL Usai 3 Prajurit TNI Gugur
Budi Antoni
Editor: Redaksi Satu Suara Bangsa
Diperbarui: 1 Agu 2026, 12.10

JAKARTA – Menteri Luar Negeri Sugiono mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melakukan evaluasi menyeluruh terhadap aspek keselamatan pasukan penjaga perdamaian dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) di Lebanon, menyusul gugurnya tiga prajurit TNI pada akhir Maret 2026. Pernyataan tersebut disampaikan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta International Airport, Sabtu (4/4/2026).
Sugiono menegaskan Indonesia mengutuk keras serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian dan meminta investigasi menyeluruh atas insiden tersebut. “Pertama kami mengutuk keras serangan yang dilakukan terhadap penjaga perdamaian dan hal ini UNIFIL,” ujarnya kepada awak media.
Ia menambahkan bahwa pemerintah Indonesia juga telah menyampaikan tuntutan serupa kepada Dewan Keamanan PBB. “Kemudian kami juga menuntut supaya dilakukan investigasi menyeluruh karena ini adalah misi penjaga perdamaian,” kata Sugiono.
Selain investigasi, Sugiono menekankan pentingnya evaluasi sistem perlindungan pasukan di lapangan. Menurutnya, mandat pasukan penjaga perdamaian berbeda dengan pasukan tempur sehingga membutuhkan perlindungan yang memadai. “Mereka tidak dilengkapi dengan kemampuan untuk membuat ataupun peacemaking. Perlengkapannya dan latihannya adalah untuk menjaga perdamaian,” jelasnya.
Tiga prajurit TNI yang gugur dalam misi tersebut adalah Mayor Inf (Anumerta) Zulmi Aditya Iskandar, Serka (Anumerta) Muhammad Nur Ichwan, dan Kopda (Anumerta) Farizal Rhomadhon. Jenazah ketiganya telah tiba di Indonesia dan disambut dalam upacara militer yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto.
Selain korban jiwa, Sugiono juga mengungkapkan terdapat tiga prajurit TNI lainnya yang mengalami luka-luka dalam rangkaian insiden di Lebanon Selatan. Hingga kini, penyebab pasti serangan masih dalam proses penyelidikan oleh UNIFIL.
Indonesia merupakan salah satu kontributor utama pasukan penjaga perdamaian PBB melalui Kontingen Garuda yang telah terlibat dalam berbagai misi internasional. Namun, meningkatnya eskalasi konflik di Lebanon Selatan dalam beberapa waktu terakhir menambah risiko terhadap keselamatan personel di lapangan.
Peristiwa ini berdampak pada meningkatnya perhatian terhadap perlindungan pasukan perdamaian, termasuk kebutuhan peningkatan standar keamanan, perlengkapan, dan mandat operasional. Bagi Indonesia, kejadian ini juga menjadi momentum untuk mendorong reformasi sistem keamanan dalam misi PBB.
Ke depan, pemerintah Indonesia menegaskan akan terus berkoordinasi dengan PBB dan komunitas internasional guna memastikan hasil investigasi diungkap secara transparan serta mendorong langkah konkret untuk meningkatkan keselamatan pasukan penjaga perdamaian di wilayah konflik.
Menemukan informasi yang perlu diperbaiki?
Sampaikan bukti dan bagian artikel yang dimaksud kepada redaksi.
Bacaan Lanjutan
Artikel Terkait

Mensos Gus Ipul Tegaskan Sekolah Rakyat Jadi Kunci Strategis Putus Kemiskinan Menuju Indonesia Makmur
JAKARTA, 24 AGUSTUS 2026 — Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menegaskan bahwa program Sekolah Rakyat merupakan langkah strategis pemerintah untuk memutus mata rantai kemiskinan dan mewujudkan keadilan s

Pemerintah Siapkan Bantuan 1.000 Rumah dan Swasta Bangun 500 Hunian Baru di Flores
KUPANG, 24 AGUSTUS 2026 — Pemerintah pusat melalui Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) menyiapkan program bantuan pembangunan dan perbaikan 1.000 unit rumah bagi korban gempa di Pulau Flores, Nus

Kementerian PU Salurkan 12 Ribu Liter Air Bersih bagi Pengungsi Gempa di Kabupaten Sikka
SIKKA, 24 AGUSTUS 2026 — Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mendistribusikan pasokan air bersih bagi warga terdampak bencana gempa bumi di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, pada Minggu (23/8/2026). Distribusi
