Satu Suara Bangsa

Menkeu: APBN Tetap Aman Meski Harga Minyak Dunia Naik, Stimulus Semester II Tetap Berjalan

Budi Antoni

Editor: Budi Antoni

25 Jul 2026, 19.432 dibaca

Diperbarui: 25 Jul 2026, 21.36

Menkeu: APBN Tetap Aman Meski Harga Minyak Dunia Naik, Stimulus Semester II Tetap Berjalan
Dokumentasi Satu Suara Bangsa — Menkeu: APBN Tetap Aman Meski Harga Minyak Dunia Naik, Stimulus Semester II Tetap Berjalan
JAKARTA – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap terjaga meskipun kenaikan harga minyak dunia menyebabkan ruang fiskal pemerintah menjadi lebih terbatas. Pemerintah menegaskan seluruh program yang telah direncanakan, termasuk paket stimulus ekonomi semester II 2026, tetap akan dilaksanakan sesuai rencana.

Purbaya menjelaskan bahwa ketika harga minyak berada pada level yang lebih rendah, pemerintah memiliki ruang yang lebih besar untuk menambah belanja bagi kementerian/lembaga maupun pemerintah daerah. Namun, kenaikan harga minyak membuat fleksibilitas tersebut menjadi lebih terbatas.

"APBN masih aman. Namun tadinya kan begini, ketika harga minyak turun, saya pikir saya ada ruang untuk menambah belanja, ke daerah, dan lain-lain ya, termasuk kementerian lembaga," ujar Purbaya di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (24/7/2026).

Menurutnya, kenaikan harga minyak tidak mengganggu pelaksanaan belanja yang telah dialokasikan dalam APBN. Dampaknya lebih kepada berkurangnya ruang pemerintah untuk menambah anggaran di luar rencana yang sudah ditetapkan.

"Artinya sekarang kalau balik lagi, ruangnya semakin terbatas saja, tapi tidak membahayakan APBN sendiri," katanya.

Purbaya menambahkan, seluruh program pemerintah yang telah dianggarkan tetap dapat dijalankan. Meski demikian, tambahan alokasi anggaran bagi kementerian/lembaga maupun pemerintah daerah akan disesuaikan dengan kemampuan fiskal pemerintah.

"Cuma yang mau saya tambahin ke kementerian/lembaga maupun ke daerah mungkin tidak seleluasa sebelumnya," ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak dunia berpotensi meningkatkan beban anggaran negara, terutama untuk kebutuhan subsidi dan kompensasi energi. Karena itu, pemerintah akan terus menjaga keseimbangan fiskal dengan menetapkan prioritas belanja secara lebih cermat.

Meski ruang fiskal menyempit, Purbaya memastikan paket stimulus ekonomi semester II 2026 tetap berjalan karena sejak awal penyusunannya telah menggunakan asumsi harga minyak yang relatif tinggi.

"Waktu stimulus semester II kemarin dilakukan kan dengan asumsi harga minyak 100 juga, jadi tidak ada perubahan yang terlalu signifikan," jelasnya.

Pemerintah juga belum berencana mengubah paket stimulus yang telah diputuskan. Penyesuaian hanya dimungkinkan terhadap rencana tambahan anggaran yang sebelumnya belum dialokasikan dalam APBN.

Kenaikan harga minyak dunia dipengaruhi meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada jalur distribusi energi global. Kondisi tersebut mendorong pemerintah untuk terus memantau perkembangan pasar energi internasional sekaligus menjaga stabilitas fiskal nasional.

Sebelumnya, Purbaya juga mengingatkan bahwa lonjakan harga minyak dapat membatasi ruang pemerintah dalam menyiapkan stimulus tambahan karena meningkatnya kebutuhan anggaran subsidi energi.

"Belum ada, cuma saya khawatir harga minyak naik terlalu tinggi, jadi ruang fiskal saya untuk ngasih stimulus terbatas, selain subsidi harga BBM ya," ujarnya.

Pemerintah menegaskan akan terus menjaga kesehatan APBN di tengah dinamika ekonomi global. Dengan pengelolaan fiskal yang hati-hati dan penyesuaian prioritas belanja, pemerintah berupaya memastikan seluruh program strategis tetap berjalan, stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga, serta pelayanan kepada masyarakat tidak terganggu meskipun menghadapi tekanan dari kenaikan harga energi dunia.

Menemukan informasi yang perlu diperbaiki?

Sampaikan bukti dan bagian artikel yang dimaksud kepada redaksi.

Lapor Kesalahan

Bacaan Lanjutan

Artikel Terkait