Satu Suara Bangsa

Kebakaran Hanguskan 150 Rumah di Desa Adat Sade Lombok, Ratusan Warga Mengungsi

Budi Antoni

Editor: Budi Antoni

23 Agu 2026, 20.241 dibaca

Diperbarui: 23 Agu 2026, 20.24

Dokumentasi SOSBUD
Dok. SOSBUD Dokumentasi SOSBUD

LOMBOK TENGAH, 23 AGUSTUS 2026 — Peristiwa kebakaran melanda kawasan permukiman cagar budaya Desa Adat Sade di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sabtu malam (22/8/2026). Insiden tersebut mengakibatkan sedikitnya 150 unit bangunan rumah hangus terbakar dan memaksa lebih dari 300 jiwa warga setempat mengungsi ke posko penampungan darurat.

Otoritas penanggulangan bencana daerah memastikan tidak ada korban jiwa dalam musibah kebakaran di salah satu desa adat tertua di Pulau Lombok tersebut. Kendati demikian, kerugian materiil tergolong besar karena api melahap 89 bangunan rumah adat tradisional khas Suku Sasak yang memiliki nilai historis dan budaya tinggi.

Dampak Kerusakan Permukiman dan Evakuasi Warga

Kobaran api yang cepat merambat pada atap jerami dan dinding bambu bangunan tradisional membuat warga kesulitan menyelamatkan harta benda berharga mereka. Sejumlah warga menuturkan bahwa sebagian besar korban terdampak hanya mampu menyelamatkan diri dengan pakaian yang melekat di badan saat api mulai membesar.

Tim gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), aparat keamanan, dan relawan kemanusiaan langsung mendirikan tenda darurat di sekitar lokasi kejadian. Upaya penyaluran bantuan logistik berupa makanan siap saji, selimut, pakaian layak pakai, serta obat-obatan terus dipercepat guna menjamin kebutuhan dasar ratusan warga yang kehilangan tempat tinggal.

Perlindungan Kawasan Cagar Budaya dan Penanganan Pascabencana

Desa Adat Sade selama ini dikenal luas sebagai salah satu destinasi wisata budaya unggulan di kawasan Mandalika yang kerap dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara. Keberadaan perkampungan tradisional ini menjadi simbol pelestarian arsitektur vernakular dan warisan tradisi leluhur Suku Sasak yang tetap terjaga secara turun-temurun.

Pemerintah daerah bersama pihak terkait kini tengah merumuskan langkah penanganan pascabencana, termasuk kajian skema pemulihan dan rekonstruksi terpadu permukiman adat tanpa menghilangkan keaslian nilai arsitekturnya. Fokus utama saat ini tetap diarahkan pada jaminan keselamatan warga, pemenuhan kebutuhan sanitasi, serta pendampingan psikososial bagi keluarga yang terdampak.

Menemukan informasi yang perlu diperbaiki?

Sampaikan bukti dan bagian artikel yang dimaksud kepada redaksi.

Lapor Kesalahan

Bacaan Lanjutan

Artikel Terkait