Satu Suara Bangsa

Istana Dorong Penguasaan Teknologi Nuklir untuk Energi hingga Kesehatan

Budi Antoni

Editor: Budi Antoni

7 Agu 2026, 20.58

Diperbarui: 7 Agu 2026, 20.58

Istana Dorong Penguasaan Teknologi Nuklir untuk Energi hingga Kesehatan
Dokumentasi Satu Suara Bangsa Istana Dorong Penguasaan Teknologi Nuklir untuk Energi hingga Kesehatan
JAKARTA, 7 AGUSTUS 2026 — Pemerintah mendorong penguasaan teknologi nuklir nasional untuk berbagai kebutuhan strategis, mulai dari energi, kesehatan dan medis hingga kemungkinan pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Pembahasan tersebut mengemuka dalam pertemuan pemerintah bersama sekitar 150 periset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Istana Kepresidenan Jakarta.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan pemanfaatan nuklir tidak hanya diarahkan untuk penelitian, tetapi juga dapat dikembangkan untuk mendukung kebutuhan energi dan kesehatan serta dikaji untuk berbagai kebutuhan strategis lainnya.

"Kalau berkenaan dengan masalah nuklir lebih fokus ke masalah untuk apa namanya, selain penelitian untuk kepentingan energi dan kesehatan. Ya misalnya untuk mungkinkah pembangkit listrik tenaga nuklir, atau mungkinkah peralatan alutsista berbahan nuklir, dan kesehatan terutama untuk medis," ujar Prasetyo.

Pembahasan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat kemampuan riset dan teknologi dalam negeri agar Indonesia memiliki kapasitas yang memadai ketika pemanfaatan teknologi nuklir semakin berkembang.

BRIN Bidik Penguasaan Rantai Teknologi Nuklir

Kepala BRIN Arif Satria mengatakan Indonesia perlu memiliki kemampuan dalam seluruh rantai teknologi nuklir, mulai dari pengelolaan bahan baku hingga pengolahan limbah.

"Di bidang nuklir, kami berupaya menguasai seluruh rantai teknologi, mulai dari penambangan dan pemurnian uranium serta torium, fabrikasi bahan bakar, teknologi reaktor, keselamatan, metrologi radiasi, hingga pengolahan limbah," kata Arif.

Penguasaan teknologi tersebut dinilai penting agar Indonesia memiliki kemampuan domestik dan tidak sepenuhnya bergantung pada teknologi dari negara lain.

Arif menegaskan persiapan harus dilakukan sejak dini, terutama apabila Indonesia nantinya memutuskan memasuki era pemanfaatan PLTN.

"BRIN harus menyiapkan kemampuan teknologi nuklir sejak sekarang agar ketika Indonesia memutuskan memasuki era PLTN, kita tidak memulai sepenuhnya dari nol dan tidak hanya menjadi pembeli teknologi," ujarnya.

Indonesia Miliki Potensi Uranium dan Torium

Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir BRIN Syaiful Bakhri menyebut Indonesia memiliki potensi sumber daya yang dapat mendukung pengembangan teknologi nuklir.

Berdasarkan data yang disampaikan BRIN, potensi uranium Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 89 ribu ton, sedangkan potensi torium sekitar 143 ribu ton.

"Untuk PLTN kita sudah siapkan untuk bahan nuklir di Indonesia, kita punya potensi uranium sekitar 89 ribu ton di Indonesia, torium 143 ribu ton di Indonesia sejauh ini," kata Syaiful.

Menurutnya, BRIN juga telah mengembangkan kemampuan terkait pemurnian uranium dan pengelolaan mineral ikutan radioaktif sebagai bagian dari penguasaan teknologi nuklir nasional.

Pemerintah Siapkan Kapasitas Sebelum Era PLTN

Penguasaan teknologi dari hulu hingga hilir diharapkan membuat Indonesia memiliki kapasitas sumber daya manusia, riset, keselamatan, bahan bakar, teknologi reaktor hingga pengelolaan limbah apabila pengembangan PLTN direalisasikan.

Selain sektor energi, teknologi nuklir juga memiliki ruang pemanfaatan pada sektor kesehatan dan medis sebagaimana disampaikan pemerintah dalam pertemuan tersebut.

Pemerintah bersama BRIN akan terus mempersiapkan kemampuan riset dan teknologi nasional sehingga pengembangan nuklir ke depan dapat ditopang kapasitas dalam negeri dan dimanfaatkan untuk kebutuhan pembangunan nasional.

Menemukan informasi yang perlu diperbaiki?

Sampaikan bukti dan bagian artikel yang dimaksud kepada redaksi.

Lapor Kesalahan

Bacaan Lanjutan

Artikel Terkait