IHSG Melonjak 4,12 Persen dan Rupiah Menguat ke Rp17.708 per Dolar AS, Sentimen Damai AS-Iran Dorong Optimisme Pasar
Budi Antoni
Editor: Redaksi Satu Suara Bangsa
Diperbarui: 7 Agu 2026, 20.22

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah kompak menguat signifikan pada penutupan perdagangan Senin (15/6/2026), didorong sentimen positif global menyusul rencana perjanjian perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran serta dukungan sejumlah kebijakan ekonomi domestik. IHSG ditutup melonjak 4,12 persen ke level 6.254,96, sementara rupiah menguat 0,85 persen ke posisi Rp17.708 per dolar AS.
Data RTI Business menunjukkan penguatan terjadi hampir di seluruh sektor pasar saham. Indeks LQ45 juga naik 4,56 persen ke level 624,682 dengan 603 saham menguat, 125 saham melemah, dan 90 saham bergerak stagnan. Di pasar valuta asing, rupiah bahkan sempat menyentuh level Rp17.673,5 per dolar AS sebelum akhirnya ditutup di Rp17.708 berdasarkan data Bloomberg.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan penguatan pasar domestik terutama dipengaruhi oleh membaiknya sentimen global setelah muncul kesepakatan damai antara AS dan Iran yang berpotensi mengakhiri ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
"Penguatan IHSG memang sejatinya dipengaruhi oleh faktor global, sebenarnya lebih dominan global ya, karena kita lihat di regional pun juga terapresiasi dengan baik," ujar Nafan.
Menurut dia, prospek dibukanya kembali Selat Hormuz menjadi faktor penting yang menenangkan pasar. Jalur pelayaran strategis tersebut selama ini menjadi perhatian investor karena berpengaruh terhadap distribusi minyak dunia. Seiring perkembangan tersebut, harga minyak global dilaporkan turun lebih dari 4 persen sehingga mengurangi kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi global.
Selain faktor eksternal, pasar juga merespons positif sejumlah kebijakan domestik. Di antaranya pembatalan skema kontrak bagi hasil (gross split) dan relaksasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) di sektor pertambangan mineral dan batu bara. Investor juga menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pekan ini.
Direktur Infovesta Utama, Wawan Hendrayana, menilai penguatan IHSG juga merupakan bagian dari fase pemulihan setelah sebelumnya mengalami tekanan cukup dalam. Menurutnya, indeks saham Indonesia sempat berada pada kondisi oversold ketika menyentuh level 5.400.
"IHSG sendiri memang sudah oversold disaat menyentuh 5.400-an dan saat ini sedang dalam fase rebound," kata Wawan.
Meski demikian, ia mengingatkan potensi aksi ambil untung (profit taking) masih terbuka apabila muncul sentimen negatif baru, termasuk jika ketegangan geopolitik kembali meningkat atau hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) tidak sesuai ekspektasi pasar.
Sementara itu, penguatan rupiah turut ditopang oleh kebijakan moneter Bank Indonesia yang sebelumnya menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin sejak Mei 2026. Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, menilai langkah tersebut berhasil menjaga daya tarik aset keuangan domestik di tengah gejolak pasar global.
"Tanpa adanya benteng kenaikan suku bunga yang mendahului kurva ini, rupiah tidak akan memiliki pijakan yang cukup kuat untuk memanfaatkan momentum pelemahan dolar AS secara maksimal," ujar Sutopo.
Ia menjelaskan bahwa pelemahan dolar AS terjadi setelah investor mengurangi permintaan terhadap aset safe haven menyusul membaiknya hubungan AS dan Iran. Indeks dolar AS (DXY) dilaporkan turun ke area 99,5, memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk menguat.
Dari sisi domestik, kebijakan sentralisasi Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang dinilai tidak mengganggu kontrak perdagangan komoditas juga membantu memulihkan kepercayaan investor. Kombinasi faktor eksternal dan internal tersebut menciptakan likuiditas yang lebih besar di pasar keuangan Indonesia.
Penguatan IHSG dan rupiah dinilai membawa dampak positif bagi perekonomian nasional. Nilai tukar yang lebih kuat dapat membantu menekan biaya impor bahan baku dan energi, sementara kenaikan pasar saham berpotensi meningkatkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia. Kondisi tersebut juga dapat membantu menjaga stabilitas fiskal di tengah tekanan global yang masih berlangsung.
Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan tren penguatan rupiah masih berlanjut dalam beberapa hari ke depan. Menurutnya, peluang rupiah menuju level Rp17.500 per dolar AS cukup terbuka jika sentimen global tetap kondusif dan aliran modal asing terus masuk ke pasar domestik.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati perkembangan proses perdamaian AS-Iran, pergerakan harga minyak dunia, serta hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia dan pertemuan FOMC Amerika Serikat. Pemerintah dan otoritas moneter juga terus memantau dinamika pasar guna menjaga stabilitas ekonomi dan keuangan nasional.
Menemukan informasi yang perlu diperbaiki?
Sampaikan bukti dan bagian artikel yang dimaksud kepada redaksi.
Bacaan Lanjutan
Artikel Terkait

Bank Mandiri Klarifikasi Pemblokiran Rekening AMPB Tegaskan Kepatuhan Prosedur Hukum dan Layanan Nasabah
JAKARTA, 24 AGUSTUS 2026 — PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menyampaikan penjelasan resmi terkait langkah pemblokiran rekening milik koordinator aksi Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), Supriyono alias Botok.

Indonesia-Jerman Percepat Investasi EBT dan Jaringan Listrik
JAKARTA, 19 AGUSTUS 2026 — Pemerintah Indonesia dan Jerman memperkuat kerja sama untuk mempercepat investasi energi baru dan terbarukan (EBT) serta modernisasi jaringan listrik. Langkah ini menjadi bagian dari

Alokasi Dana Desa Rp77 Triliun Ditargetkan Perkuat Pengembangan Kopdes
JAKARTA, 22 AGUSTUS 2026 — Pemerintah memproyeksikan alokasi Dana Desa mencapai Rp77 triliun pada tahun anggaran 2027 guna mempercepat transformasi ekonomi dan penguatan kapasitas usaha Koperasi Desa (Kopdes) M
