Daycare di Yogyakarta Digerebek, 53 Anak diduga Jadi Korban Kekerasan
Budi Antoni
Editor: Redaksi Satu Suara Bangsa
Diperbarui: 20 Jul 2026, 18.58

Daycare di Yogyakarta Digerebek, 53 Anak Diduga Jadi Korban Kekerasan
Yogyakarta, — Aparat Kepolisian Resor Kota (Polresta) Yogyakarta menggerebek daycare Little Aresha di Kota Yogyakarta pada Jumat (24/4/2026) setelah diduga terjadi tindakan kekerasan terhadap anak-anak yang dititipkan. Hingga Sabtu (25/4/2026), sebanyak 53 anak terdata sebagai korban, dengan sebagian besar berusia di bawah dua tahun.
Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Yogyakarta, Komisaris Polisi Riski Adrian, menyatakan jumlah korban tersebut berdasarkan data sementara hasil penyelidikan awal. “Kalau untuk yang kita lihat ada tindakan kekerasannya itu sekitar 53 orang. By data ya,” kata Riski Adrian.
Ia menegaskan bahwa proses penyelidikan masih terus berlangsung dan tidak menutup kemungkinan jumlah korban akan bertambah seiring pendalaman kasus. “Pasti kalau memang ada pengembangan di kasus ini pasti kita kejar,” ujarnya.
Penggerebekan dilakukan setelah adanya laporan dan kecurigaan terhadap praktik pengasuhan di lokasi tersebut. Saat operasi berlangsung, petugas menemukan kondisi anak-anak yang memprihatinkan. “Karena ada juga yang kakinya diikat, tangannya diikat dan sebagainya. Secara umum seperti itu yang bisa saya jelaskan,” kata Riski Adrian.
Sebagian orang tua baru mengetahui kondisi tersebut setelah penggerebekan dilakukan. Anak-anak yang mengalami luka langsung dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis. Polisi menyebut saat ini para korban telah mendapatkan perawatan.
Kasus dugaan kekerasan di fasilitas penitipan anak ini menambah daftar perhatian terhadap standar pengawasan daycare di Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah kasus serupa mencuat dan memicu sorotan terhadap perlunya regulasi serta pengawasan lebih ketat terhadap lembaga pengasuhan anak, terutama bagi balita.
Dari sisi dampak, kasus ini berpotensi menimbulkan trauma pada anak serta kekhawatiran luas di kalangan orang tua terhadap keamanan layanan penitipan anak. Selain itu, kepercayaan publik terhadap penyedia jasa daycare juga dapat terpengaruh apabila tidak diikuti dengan penanganan yang transparan dan akuntabel.
Sebagai tindak lanjut, kepolisian akan melanjutkan penyelidikan untuk mengungkap pelaku dan kemungkinan adanya pihak lain yang terlibat. Pemerintah daerah bersama instansi terkait juga diharapkan melakukan evaluasi terhadap izin operasional dan standar pengawasan daycare guna mencegah kejadian serupa terulang.
Menemukan informasi yang perlu diperbaiki?
Sampaikan bukti dan bagian artikel yang dimaksud kepada redaksi.
Bacaan Lanjutan
Artikel Terkait

Mensos Gus Ipul Tegaskan Sekolah Rakyat Jadi Kunci Strategis Putus Kemiskinan Menuju Indonesia Makmur
JAKARTA, 24 AGUSTUS 2026 — Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menegaskan bahwa program Sekolah Rakyat merupakan langkah strategis pemerintah untuk memutus mata rantai kemiskinan dan mewujudkan keadilan s

Pemerintah Siapkan Bantuan 1.000 Rumah dan Swasta Bangun 500 Hunian Baru di Flores
KUPANG, 24 AGUSTUS 2026 — Pemerintah pusat melalui Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) menyiapkan program bantuan pembangunan dan perbaikan 1.000 unit rumah bagi korban gempa di Pulau Flores, Nus

Kementerian PU Salurkan 12 Ribu Liter Air Bersih bagi Pengungsi Gempa di Kabupaten Sikka
SIKKA, 24 AGUSTUS 2026 — Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mendistribusikan pasokan air bersih bagi warga terdampak bencana gempa bumi di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, pada Minggu (23/8/2026). Distribusi
