BRIN Kembangkan Dua Satelit Baru untuk Perkuat Deteksi Dini Bencana di Indonesia
Budi Antoni
Editor: Redaksi Satu Suara Bangsa
Diperbarui: 7 Agu 2026, 09.24

Jakarta - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mengembangkan dua satelit generasi terbaru, yakni Nusantara Earth Observation-1 (NEO-1) dan Nusantara Equatorial IoT (NEI), untuk memperkuat sistem peringatan dini bencana dan observasi Bumi. Pengembangan ini disampaikan oleh Perekayasa Ahli Pertama Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Nur Salma Yusuf Hasanah, dalam kegiatan di Kawasan Sains Ibnoe Soebroto, Rancabungur, Bogor, pada akhir April 2026. Kedua satelit ini dirancang untuk meningkatkan kemampuan pemantauan wilayah Indonesia secara real-time, terutama dalam menghadapi risiko bencana alam.
Nur Salma menjelaskan bahwa satelit NEO-1 difokuskan pada observasi Bumi dengan dukungan teknologi kamera multispektral resolusi tinggi, sensor magnetometer, serta sistem komunikasi data. “Mudah-mudahan dapat segera diluncurkan,” ujarnya. Satelit ini diharapkan mampu mendukung pemantauan lingkungan, perubahan lahan, hingga deteksi potensi bencana secara lebih akurat.
Sementara itu, satelit NEI dirancang khusus untuk mendukung sistem peringatan dini bencana dengan mengintegrasikan berbagai sensor, termasuk untuk tsunami, gempa, dan cuaca. Salma menegaskan bahwa keunggulan utama NEI terletak pada desainnya yang berbentuk konstelasi. “Satelit ini akan dirancang dalam bentuk konstelasi. Tujuannya untuk memantau wilayah Indonesia secara waktu nyata tanpa jeda. Harapannya, terdapat sekitar 10 satelit yang mengorbit di wilayah ekuatorial,” jelasnya.
Pengembangan dua satelit ini merupakan kelanjutan dari program satelit nasional yang sebelumnya telah meluncurkan LAPAN-A1, LAPAN-A2, dan LAPAN-A3. Ketiga satelit tersebut telah dimanfaatkan untuk observasi Bumi, pemantauan maritim, komunikasi satelit, serta eksperimen teknologi. Pengalaman ini menjadi dasar pengembangan teknologi satelit yang lebih canggih dan terintegrasi.
Secara historis, Indonesia sebagai negara kepulauan dengan tingkat kerawanan bencana tinggi membutuhkan sistem pemantauan yang cepat dan akurat. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan frekuensi bencana seperti gempa bumi, tsunami, dan cuaca ekstrem terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Keterbatasan sistem pemantauan berbasis darat menjadi tantangan dalam penyampaian informasi secara cepat ke masyarakat.
Dari sisi dampak, pengembangan satelit ini berpotensi meningkatkan kecepatan respons terhadap bencana, mengurangi risiko korban jiwa, serta memperkuat koordinasi antarinstansi dalam penanganan darurat. Selain itu, kemampuan observasi yang lebih baik juga dapat mendukung sektor lain seperti pertanian, kelautan, dan transportasi udara.
Untuk mendukung operasional satelit, BRIN saat ini telah memiliki empat stasiun bumi yang tersebar di Agam, Bogor, Parepare, dan Biak. Ke depan, pemerintah melalui BRIN akan melanjutkan pengembangan teknologi satelit nasional, termasuk percepatan peluncuran NEO-1 serta penguatan sistem konstelasi NEI guna memastikan pemantauan wilayah Indonesia dapat dilakukan secara berkelanjutan dan real-time.
Menemukan informasi yang perlu diperbaiki?
Sampaikan bukti dan bagian artikel yang dimaksud kepada redaksi.
Bacaan Lanjutan
Artikel Terkait

Mensos Gus Ipul Tegaskan Sekolah Rakyat Jadi Kunci Strategis Putus Kemiskinan Menuju Indonesia Makmur
JAKARTA, 24 AGUSTUS 2026 — Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menegaskan bahwa program Sekolah Rakyat merupakan langkah strategis pemerintah untuk memutus mata rantai kemiskinan dan mewujudkan keadilan s

Pemerintah Siapkan Bantuan 1.000 Rumah dan Swasta Bangun 500 Hunian Baru di Flores
KUPANG, 24 AGUSTUS 2026 — Pemerintah pusat melalui Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) menyiapkan program bantuan pembangunan dan perbaikan 1.000 unit rumah bagi korban gempa di Pulau Flores, Nus

Kementerian PU Salurkan 12 Ribu Liter Air Bersih bagi Pengungsi Gempa di Kabupaten Sikka
SIKKA, 24 AGUSTUS 2026 — Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mendistribusikan pasokan air bersih bagi warga terdampak bencana gempa bumi di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, pada Minggu (23/8/2026). Distribusi
