BRIN Kembangkan Biobriket dari Limbah Minyak Atsiri, Dorong Energi Terbarukan dan Kurangi Limbah Agroindustri
Budi Antoni
Editor: Redaksi Satu Suara Bangsa
Diperbarui: 22 Jul 2026, 09.34

JAKARTA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap potensi besar limbah padat industri minyak atsiri untuk diolah menjadi biobriket sebagai sumber energi alternatif berbasis biomassa. Inovasi tersebut dinilai mampu meningkatkan nilai tambah limbah agroindustri sekaligus mendukung pengembangan energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan.
Peneliti Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN, Anny Sulaswatty, menjelaskan bahwa limbah dari berbagai tanaman penghasil minyak atsiri, seperti akar wangi, serai wangi, kayu manis, cengkeh, jahe, cendana, gaharu, hingga masoi, masih memiliki kandungan karbon yang cukup tinggi sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan bakar padat.
"Banyak limbah biomassa dapat dimanfaatkan menjadi biobriket, tetapi poin utamanya adalah bahan tersebut harus memiliki nilai karbon minimal 40 persen," ujar Anny.
Salah satu bahan yang dinilai paling potensial adalah limbah padat hasil penyulingan rimpang jahe (Zingiber officinale). Selama ini limbah tersebut umumnya belum dimanfaatkan secara optimal, padahal memiliki kandungan lignin sekitar 45,98 persen yang sangat mendukung proses pembuatan biobriket berkualitas.
Menurut Anny, limbah jahe terlebih dahulu dikeringkan, kemudian melalui proses karbonisasi (pirolisis) untuk menghasilkan biochar. Material tersebut selanjutnya dicampur dengan perekat, dicetak menjadi biobriket, dan diuji berbagai karakteristiknya, mulai dari kadar air, kadar abu, karbon tetap, densitas, kekuatan mekanik, laju pembakaran, hingga nilai kalor.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses karbonisasi mampu meningkatkan kandungan karbon serta menghasilkan struktur biochar yang lebih berpori. Sementara itu, pemilihan jenis perekat berpengaruh terhadap kekuatan dan kualitas pembakaran biobriket.
"Melalui optimasi jenis perekat, penelitian ini bertujuan menghasilkan biobriket yang memenuhi standar mutu bahan bakar padat, memiliki performa pembakaran yang stabil, serta berpotensi dikembangkan sebagai sumber energi alternatif yang ramah lingkungan dan bernilai tambah," jelasnya.
BRIN menilai pemanfaatan limbah penyulingan jahe menjadi biobriket tidak hanya mengurangi akumulasi limbah dari industri minyak atsiri dan herbal, tetapi juga mendukung penerapan ekonomi sirkular dengan mengubah limbah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.
Teknologi tersebut dinilai berpotensi diterapkan di berbagai sentra produksi minyak atsiri, industri herbal, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menghasilkan limbah biomassa dalam jumlah besar. Selain mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, pengembangan biobriket juga berpotensi menekan emisi gas rumah kaca, meningkatkan efisiensi pengelolaan limbah, serta memperkuat ketahanan energi berbasis sumber daya lokal.
Menemukan informasi yang perlu diperbaiki?
Sampaikan bukti dan bagian artikel yang dimaksud kepada redaksi.
Bacaan Lanjutan
Artikel Terkait

Mensos Gus Ipul Tegaskan Sekolah Rakyat Jadi Kunci Strategis Putus Kemiskinan Menuju Indonesia Makmur
JAKARTA, 24 AGUSTUS 2026 — Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menegaskan bahwa program Sekolah Rakyat merupakan langkah strategis pemerintah untuk memutus mata rantai kemiskinan dan mewujudkan keadilan s

Pemerintah Siapkan Bantuan 1.000 Rumah dan Swasta Bangun 500 Hunian Baru di Flores
KUPANG, 24 AGUSTUS 2026 — Pemerintah pusat melalui Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) menyiapkan program bantuan pembangunan dan perbaikan 1.000 unit rumah bagi korban gempa di Pulau Flores, Nus

Kementerian PU Salurkan 12 Ribu Liter Air Bersih bagi Pengungsi Gempa di Kabupaten Sikka
SIKKA, 24 AGUSTUS 2026 — Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mendistribusikan pasokan air bersih bagi warga terdampak bencana gempa bumi di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, pada Minggu (23/8/2026). Distribusi
