Satu Suara Bangsa

Bapanas Pastikan Stok Beras Nasional Kuat Hadapi El Nino, Cadangan Tembus 5,2 Juta Ton

Budi Antoni

Editor: Budi Antoni

25 Jul 2026, 19.482 dibaca

Diperbarui: 25 Jul 2026, 21.36

Screenshot 2026-07-25 at 19.47.21
Dokumentasi Satu Suara Bangsa — Screenshot 2026-07-25 at 19.47.21
JAKARTA – Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan Indonesia memiliki cadangan beras pemerintah (CBP) yang kuat untuk menghadapi musim kemarau dan potensi dampak fenomena El Nino pada 2026. Pemerintah menilai ketersediaan stok saat ini menjadi modal penting dalam menjaga ketahanan pangan dan stabilitas pasokan beras nasional.

Amran mengatakan bahwa kondisi cadangan beras pemerintah saat ini jauh lebih baik dibandingkan ketika Indonesia menghadapi puncak El Nino pada 2023.

"Dulu pada saat terjadi El Nino, kita ada stok (cadangan) beras nasional sekitar 1,5 juta ton. Sekarang (CBP kita) ada sekitar 5,2 juta ton," kata Amran dalam keterangannya, Kamis (24/7/2026).

Data Bapanas menunjukkan stok beras yang dikelola Perum Bulog per 22 Juli 2026 telah mencapai 5,24 juta ton. Jumlah tersebut meningkat sekitar 244,74 persen dibandingkan stok sebelum puncak El Nino 2023 yang berada pada kisaran 1,52 juta ton.

Menurut Amran, pengalaman menghadapi El Nino pada 2015, 2023, dan 2024 menjadi bekal bagi pemerintah dalam memperkuat strategi mitigasi terhadap potensi gangguan produksi pangan akibat musim kemarau.

"Nah semua ini adalah pertahanan kita untuk mengantisipasi kekeringan. Kita sudah pengalaman El Nino tahun 2015, 2023, 2024. Dengan pengalaman ini, dulu saja kita bisa penyesuaian saat El Nino, alhamdulillah kita bisa lolos," ujarnya.

Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak khawatir terhadap ketersediaan beras nasional. Menurutnya, stok cadangan yang dimiliki pemerintah masih berada di atas kebutuhan selama musim kemarau.

"Jadi kita tidak perlu khawatir, karena kapasitas yang diperlukan selama musim kemarau biasanya sekitar 3 juta ton, sedangkan kita ada stok sekarang masih 5,2 juta ton, masih ada (surplus) 2 juta ton lebih," tegas Amran.

Bapanas menjelaskan bahwa cadangan beras pemerintah dimanfaatkan untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga melalui berbagai program, termasuk Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Hingga 22 Juli 2026, realisasi penyaluran beras SPHP telah mencapai 507,75 ribu ton atau sekitar 61,32 persen dari target 828 ribu ton untuk periode Maret–Desember 2026.

Selain itu, pemerintah juga akan menyalurkan bantuan pangan beras tahap kedua untuk alokasi Juli–September 2026 sebanyak 997,2 ribu ton kepada sekitar 33,24 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Penyaluran akan dilakukan oleh Perum Bulog secara sekaligus mulai Agustus 2026.

Di sisi lain, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi beras masih terkendali. Inflasi beras tahunan (year-on-year) pada Juni 2026 tercatat 3,98 persen, lebih rendah dibandingkan Mei 2026 yang mencapai 4,55 persen. Sementara inflasi bulanan (month-to-month) berada di angka 0,45 persen, mencerminkan pergerakan harga beras yang relatif stabil.

Sementara itu, BMKG memprediksi puncak musim kemarau berlangsung pada Juli hingga September 2026 dengan kondisi yang diperkirakan lebih kering dan lebih panjang dibandingkan rata-rata normal. BMKG juga memperkirakan fenomena El Nino berpotensi bertahan hingga awal 2027.

Pemerintah menegaskan akan terus memperkuat pengelolaan cadangan pangan, distribusi beras, serta berbagai program stabilisasi untuk menjaga ketahanan pangan nasional. Dengan stok beras yang berada pada level tinggi serta langkah antisipasi yang telah disiapkan, pemerintah optimistis kebutuhan masyarakat tetap dapat terpenuhi dan stabilitas harga pangan dapat terus terjaga selama menghadapi musim kemarau dan potensi dampak El Nino.

Menemukan informasi yang perlu diperbaiki?

Sampaikan bukti dan bagian artikel yang dimaksud kepada redaksi.

Lapor Kesalahan

Bacaan Lanjutan

Artikel Terkait