Palu – Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 6 Palu, Provinsi Sulawesi Tengah, menyatakan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sangat dibutuhkan dan berdampak langsung bagi siswa, terutama dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Hal tersebut disampaikan oleh PIC MBG SMAN 6 Palu Mohammad Ikra dalam podcast kolaborasi ANTARA Sulteng dan Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian, dan Statistik (Diskominfosantik) Sulteng di Palu, Senin (5/5/2026).
Mohammad Ikra menjelaskan bahwa sebanyak 800 siswa di sekolah tersebut menjadi penerima manfaat program MBG. Ia menilai program ini sangat relevan dengan kondisi ekonomi sebagian besar siswa. “Program ini sangat positif dan bisa dikatakan sangat diharapkan para peserta didik,” ujarnya.
Ia menambahkan, keterbatasan ekonomi keluarga menjadi faktor utama tingginya antusiasme siswa terhadap program ini. “Bahkan beberapa anak-anak tidak memiliki uang jajan untuk makan siang,” kata Ikra. Menurutnya, keberadaan MBG juga berdampak pada peningkatan kehadiran siswa di sekolah. “Dengan adanya program MBG, tingkat kehadiran siswa meningkat, karena di siang hari sudah disediakan makan gratis di sekolah,” lanjutnya.
Sementara itu, Guru Besar Universitas Tadulako Nur Sangadji menilai program MBG memiliki dampak sosial yang lebih luas, terutama dalam menciptakan kesetaraan di lingkungan sekolah. “Kalau kita kasih semua, akan ada dampak psikologis yang baik. Karena, tidak ada yang merasa lebih kaya, dan tidak ada merasa lebih miskin,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pemberian makanan secara merata kepada seluruh siswa dapat menghilangkan kesenjangan sosial. “Program ini menunjukkan adanya kesamaan dan kesetaraan, saat mereka bersama-sama makan dengan makanan yang sama dan dari omprengan yang sama,” kata Nur.
Program MBG merupakan salah satu inisiatif pemerintah untuk meningkatkan kualitas gizi pelajar sekaligus mendukung proses belajar mengajar. Program ini juga menjadi bagian dari upaya menekan angka stunting dan meningkatkan konsentrasi belajar siswa di berbagai daerah, khususnya wilayah dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah.
Dalam konteks implementasi nasional, MBG tidak hanya menyasar aspek kesehatan, tetapi juga berfungsi sebagai intervensi sosial untuk mengurangi ketimpangan di lingkungan pendidikan. Sejumlah daerah melaporkan peningkatan partisipasi siswa dan penurunan angka bolos sekolah sejak program ini berjalan.
Ke depan, pemerintah daerah bersama pemangku kepentingan terkait akan terus mengevaluasi pelaksanaan program MBG, termasuk memastikan keberlanjutan pendanaan, kualitas makanan, serta pemerataan distribusi agar manfaatnya dapat dirasakan secara optimal oleh seluruh siswa di Indonesia.
