JAKARTA — Pemerintah menegaskan bahwa berbagai program pembangunan di Papua, termasuk proyek ketahanan pangan dan pembangunan infrastruktur di Papua Selatan, dilaksanakan dengan pendekatan kesejahteraan masyarakat dan perlindungan hak masyarakat adat. Penegasan itu disampaikan menyusul munculnya film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita yang memunculkan kritik terhadap pembangunan nasional di wilayah Papua.
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Republik Indonesia menyatakan bahwa pemerintah menghormati kebebasan berekspresi, namun meminta publik melihat pembangunan Papua secara utuh dan berdasarkan data lapangan.
“Pemerintah hadir di Papua bukan untuk melakukan eksploitasi, melainkan mempercepat pemerataan pembangunan, membuka akses pendidikan, kesehatan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (11/5).
Pernyataan senada disampaikan Kepala Badan Nasional Pengelola Perbatasan yang menilai narasi kolonialisme yang muncul dalam film tersebut tidak mencerminkan keseluruhan kondisi di lapangan. Menurutnya, sejumlah proyek strategis nasional di Papua telah membuka akses transportasi, distribusi pangan, serta lapangan kerja baru bagi masyarakat setempat.
“Selama ini masih banyak daerah yang terisolasi. Kehadiran jalan, fasilitas kesehatan, dan program pangan justru dimaksudkan untuk mengurangi ketimpangan pembangunan,” katanya.
Film dokumenter tersebut sebelumnya ramai diperbincangkan di media sosial karena mengangkat isu masyarakat adat, pembukaan lahan, dan dampak proyek pembangunan di Papua Selatan. Sejumlah kegiatan pemutaran film di beberapa kota juga sempat menuai polemik sehingga memicu perhatian publik secara luas.
Pemerintah menyebut pembangunan di Papua merupakan bagian dari agenda percepatan kesejahteraan yang telah berlangsung sejak pembentukan kebijakan Otonomi Khusus Papua pada 2001. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah meningkatkan anggaran infrastruktur, pendidikan, layanan kesehatan, dan konektivitas antarwilayah guna mempercepat pertumbuhan ekonomi di kawasan timur Indonesia.
Data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menunjukkan pembangunan jalan dan konektivitas di Papua ditujukan untuk menekan biaya logistik serta membuka akses daerah terpencil. Sementara itu, program ketahanan pangan nasional di Papua Selatan disebut sebagai langkah strategis untuk memperkuat pasokan pangan nasional sekaligus menciptakan pusat ekonomi baru di kawasan timur.
Di sisi lain, pemerintah mengakui bahwa pelaksanaan proyek pembangunan tetap memerlukan evaluasi dan pengawasan agar tidak menimbulkan konflik sosial maupun kerusakan lingkungan. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyatakan setiap proyek wajib melalui analisis dampak lingkungan serta konsultasi dengan masyarakat setempat.
Pengamat komunikasi politik dari Universitas Indonesia menilai polemik film tersebut menunjukkan tingginya sensitivitas publik terhadap isu Papua dan pembangunan nasional. Menurutnya, pemerintah perlu memperkuat transparansi informasi serta pelibatan masyarakat lokal agar tidak muncul kesenjangan persepsi di ruang publik.
“Isu Papua sangat mudah menjadi perhatian internasional. Karena itu komunikasi publik pemerintah harus berbasis data, terbuka, dan melibatkan masyarakat adat secara langsung,” ujarnya.
Pemerintah menyatakan akan terus melakukan dialog dengan tokoh adat, pemerintah daerah, dan masyarakat sipil guna memastikan pembangunan berjalan seimbang antara kepentingan ekonomi, perlindungan lingkungan, dan hak masyarakat lokal. Dalam waktu dekat, pemerintah juga berencana meningkatkan forum konsultasi publik terkait pelaksanaan proyek strategis nasional di Papua.
