Jatim Siapkan 3.800 Sumur Bor Antisipasi El Nino, Amankan 921 Ribu Hektare Sawah

Surabaya — Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air menyiapkan berbagai langkah strategis menghadapi musim kemarau 2026 yang diprediksi lebih awal dan kering akibat fenomena El Nino. Salah satu langkah utama adalah pengoperasian 3.800 sumur bor untuk menjaga ketersediaan air irigasi bagi sekitar 921.000 hektare lahan pertanian yang berpotensi terdampak kekeringan.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas PU SDA Jawa Timur I Nyoman Gunadi mengatakan kebijakan ini merupakan tindak lanjut instruksi Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa agar mitigasi kekeringan dilakukan sejak dini.
“Gubernur telah menginstruksikan langkah antisipatif melalui surat resmi agar mitigasi dilakukan sejak dini, termasuk pemetaan wilayah rawan dan penguatan sistem peringatan dini,” ujarnya, Sabtu (2/5/2026).

Menurut Nyoman, optimalisasi sumur bor difokuskan pada wilayah lumbung pangan yang tidak terjangkau jaringan irigasi permukaan. Dari total 3.800 unit, sekitar 1.800 merupakan tambahan bantuan dari Kementerian Pertanian.
“Sumur bor ini difokuskan untuk wilayah lumbung pangan yang tidak terjangkau jaringan irigasi permukaan, sehingga kebutuhan air tetap terpenuhi,” katanya.

Selain itu, pemerintah daerah juga memaksimalkan tampungan air melalui bendungan dan embung, terutama di wilayah prioritas seperti Ponorogo, Pacitan, dan Bojonegoro. Strategi lain yang diterapkan adalah pompanisasi dan irigasi perpompaan guna menjaga Indeks Pertanaman (IP) tetap stabil.
“Strategi pengairan diperkuat melalui pompanisasi agar produksi pangan tidak menurun,” jelas Nyoman.

Kebijakan ini tidak lepas dari posisi Jawa Timur sebagai salah satu lumbung pangan nasional yang berkontribusi besar terhadap produksi beras nasional. Ancaman kekeringan akibat El Nino sebelumnya juga pernah berdampak pada penurunan produksi pertanian, sehingga langkah mitigasi dini menjadi krusial untuk menjaga stabilitas pasokan pangan.

Dari sisi dampak, pengoperasian sumur bor dan penguatan sistem irigasi diharapkan mampu mengurangi risiko gagal panen, menjaga pendapatan petani, serta memastikan pasokan pangan tetap stabil di tengah tekanan perubahan iklim. Adaptasi petani melalui percepatan masa tanam dan penggunaan varietas tahan kekeringan juga menjadi faktor penting dalam menjaga produktivitas.

Sebagai tindak lanjut, Pemprov Jawa Timur akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat, termasuk mendukung program pompanisasi dan optimalisasi lahan rawa dari Kementerian Pertanian. Selain itu, opsi operasi modifikasi cuaca (OMC) atau hujan buatan juga disiapkan apabila kondisi kekeringan semakin kritis guna menjaga cadangan air di waduk.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *