IPR Tegaskan PSN Food Estate Wanam Tak Terkait Film Pesta Babi

JAKARTA — Direktur Indonesia Political Review (IPR) Iwan Setiawan menegaskan Proyek Strategis Nasional (PSN) lumbung pangan atau food estate di Wanam, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, tidak memiliki keterkaitan dengan film dokumenter Pesta Babi yang belakangan menjadi polemik publik. Menurutnya, proyek ketahanan pangan nasional tersebut harus tetap dilanjutkan demi mendukung visi swasembada pangan yang digagas Presiden Prabowo Subianto.

“Menurut saya kebijakan PSN Wanam ini cukup visioner, karena ke depan negara global pun akan fokus dengan isu pangan mereka masing-masing. Karena, kalau isunya malah Indonesia defisit pangan, itu lebih bahaya lagi,” ujar Iwan Setiawan di Jakarta, Rabu (20/5/2026).

Iwan menjelaskan, program cetak sawah di Wanam difokuskan untuk memperkuat kemandirian dan ketahanan pangan nasional di tengah meningkatnya tantangan global, termasuk ancaman krisis pangan dan perubahan geopolitik dunia. Ia menilai proyek tersebut memiliki manfaat strategis bagi Indonesia dalam jangka panjang.

Menurut dia, sejumlah manfaat utama dari proyek tersebut antara lain mendukung target swasembada beras nasional, menciptakan lapangan kerja baru di wilayah pedesaan, meningkatkan pendapatan masyarakat dan petani hingga 20 sampai 30 persen, serta mengoptimalkan pemanfaatan lahan tidur menjadi kawasan produktif.

“Soal kritik di Film Pesta Babi itu ya hak demokrasi menyatakan pendapat dalam bentuk kreativitas film. Yang salah adalah jika hal tersebut dilakukan dengan tujuan delegitimasi dan agenda politik terselubung,” katanya.

Ia juga menilai pemerintah telah memiliki kajian serta landasan regulasi yang memadai terkait aspek lingkungan hidup dan kehutanan dalam pelaksanaan proyek food estate di Papua Selatan.

“Dalam situasi tekanan global yang berefek ke kondisi ekonomi Indonesia saat ini, kita perlu membangun narasi-narasi optimisme dan bukan malah melakukan provokasi,” tegas Iwan.

Polemik mengenai film Pesta Babi mencuat setelah sejumlah pihak mengkritik proyek food estate di Merauke dengan alasan perlindungan masyarakat adat dan lingkungan hidup. Film tersebut menggambarkan perjuangan masyarakat adat Papua Selatan dalam mempertahankan tanah dan ruang hidup mereka dari proyek pembangunan berskala besar.

Namun demikian, pemerintah tetap melanjutkan pembangunan PSN Wanam sebagai bagian dari strategi nasional ketahanan pangan. Sejumlah fasilitas utama di kawasan tersebut dilaporkan telah rampung 100 persen dan mulai memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat setempat.

Salah seorang warga Papua bernama Balagaize mengaku pembangunan di wilayah Wanam membawa harapan baru bagi masyarakat lokal, khususnya dalam pemerataan pembangunan hingga ke kampung dan dusun.

“Kami harus bersyukur. Bukan karena kita saja yang bisa menikmati, tapi sampai kami punya anak cucu,” ujar Balagaize.

Ia menilai program pembangunan dari pemerintah pusat akan membuka peluang peningkatan kesejahteraan masyarakat Papua Selatan di masa mendatang.

“Kalau memang sudah ada program ini dari pemerintah pusat, berarti kita punya kehidupan masyarakat lokal di sini mungkin sudah akan jadi lebih makmur,” katanya.

Program food estate di Papua Selatan merupakan bagian dari agenda strategis pemerintah untuk memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus mendorong pembangunan ekonomi di kawasan timur Indonesia. Pemerintah juga menyatakan akan terus melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan proyek, termasuk memastikan keterlibatan masyarakat lokal serta menjaga keseimbangan lingkungan hidup dalam proses pengembangannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *