JAKARTA — Anggota DPR RI Fraksi Golkar Bambang Soesatyo mengajak komunitas otomotif di Indonesia menjaga soliditas dan mendukung kebijakan pemerintah dalam penghematan bahan bakar minyak (BBM), menyusul tekanan geopolitik global yang berdampak pada kenaikan harga energi dan perekonomian nasional.
Ajakan tersebut disampaikan di Jakarta, Senin (13/4/2026), di tengah meningkatnya ketegangan konflik di Timur Tengah yang memicu gangguan pasokan energi dunia serta lonjakan harga minyak mentah.
“Komunitas otomotif harus menjadi pelopor dalam menjaga solidaritas dan persatuan bangsa. Termasuk membantu pemerintah menghadapi tekanan ekonomi akibat gejolak global,” kata Bambang dalam keterangan persnya.
Ia menjelaskan, konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat telah berdampak pada jalur distribusi energi global, khususnya di Selat Hormuz yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. “Sehingga setiap eskalasi konflik langsung memicu lonjakan harga minyak mentah dunia yang sempat menyentuh lebih dari USD 100 per barel,” ujarnya.
Menurut Bambang, dampak tersebut turut dirasakan Indonesia sebagai negara importir minyak, terutama dalam bentuk peningkatan beban subsidi energi dan tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Ia menyebut, konsumsi BBM nasional saat ini mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, dengan lebih dari 70 persen digunakan oleh sektor transportasi.
“Jika harga minyak dunia naik USD 10 per barel, tambahan beban APBN bisa mencapai sekitar Rp25–30 triliun. Karena itu, efisiensi energi menjadi langkah strategis yang harus didukung semua pihak,” tegasnya.
Secara historis, ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak masih cukup tinggi meskipun pemerintah telah mendorong berbagai program diversifikasi energi, termasuk pengembangan energi terbarukan dan kebijakan penghematan BBM. Dalam APBN 2026, pemerintah mengalokasikan subsidi energi sebesar Rp210,06 triliun untuk menjaga stabilitas harga di dalam negeri.
Dari sisi dampak, kenaikan harga energi global berpotensi menekan daya beli masyarakat serta meningkatkan beban fiskal negara. Oleh karena itu, partisipasi publik, termasuk komunitas otomotif, dinilai penting dalam menekan konsumsi BBM melalui perilaku berkendara yang efisien dan penggunaan energi alternatif.
Sebagai tindak lanjut, pemerintah terus menyiapkan langkah mitigasi, mulai dari pengendalian distribusi BBM, penguatan cadangan energi nasional, hingga percepatan transisi ke energi alternatif. Bambang menilai komunitas otomotif dapat berperan sebagai agen perubahan melalui kampanye hemat energi dan penggunaan kendaraan secara bijak guna mendukung ketahanan energi nasional.
