Antrean BBM Mengular di Pekanbaru, Pertamina Pastikan Stok Aman Meski Permintaan Meningkat

Pekanbaru – Masyarakat di Pekanbaru mengeluhkan kesulitan memperoleh bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite dan Pertamax 92 pada Minggu (3/5/2026), ditandai dengan antrean panjang di sejumlah SPBU hingga meluber ke badan jalan. Kondisi ini terjadi di tengah peningkatan mobilitas warga selama libur panjang awal Mei, meskipun Pertamina Patra Niaga memastikan tidak ada pengurangan kuota BBM di wilayah tersebut.

Pantauan di lapangan menunjukkan antrean kendaraan terjadi di sejumlah titik, salah satunya di SPBU wilayah Panam, dengan waktu tunggu mencapai lebih dari satu jam. Seorang warga, Deswitri Rahmi (40), mengaku harus mengantre selama 1,5 jam untuk mendapatkan BBM. “Sulit mendapatkan BBM, di beberapa eceran sudah kosong,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa harga BBM di tingkat eceran melonjak signifikan. “Yang biasanya Rp12 ribu jadi Rp20 ribu di eceran,” katanya.

Keluhan serupa disampaikan Eriyanto (54), pedagang keliling yang bergantung pada BBM untuk operasional sehari-hari. Ia menilai kondisi ini berdampak langsung pada pendapatannya. “Semoga ke depan bisa mendapatkan BBM bisa lancar dan aman, sehingga tidak harus mengantri selama ini. Kalau eceran normal, orang nggak bakal ngantri,” ucapnya.

Menanggapi kondisi tersebut, Area Manager Communication, Relations & CSR Regional Sumbagut Fahrougi Andriani Sumampouw menegaskan bahwa pasokan BBM di Riau dalam kondisi aman. “Tidak ada pengurangan BBM untuk Riau,” katanya. Ia menjelaskan bahwa antrean terjadi akibat lonjakan потребление masyarakat selama periode libur panjang.

Fahrougi menyebut pihaknya telah mengambil langkah antisipatif dengan meningkatkan penyaluran BBM. “Kita telah meningkatkan penyaluran hingga 20 persen dari rata-rata normal. Selain itu, Pertamina juga terus melakukan pemantauan secara intensif serta koordinasi dengan seluruh lembaga penyalur guna memastikan distribusi BBM berjalan lancar dan optimal di lapangan,” ujarnya.

Secara historis, antrean BBM di daerah perkotaan kerap terjadi pada periode libur panjang atau momentum tertentu yang meningkatkan mobilitas masyarakat. Data internal Pertamina menunjukkan konsumsi BBM dapat melonjak signifikan pada masa tersebut, terutama untuk jenis bahan bakar bersubsidi seperti Pertalite.

Dari sisi dampak, kondisi ini berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat, khususnya pelaku usaha kecil dan sektor transportasi. Kenaikan harga di tingkat eceran juga dapat menekan daya beli masyarakat serta memicu praktik distribusi tidak resmi jika tidak segera ditangani.

Ke depan, Pertamina menyatakan akan terus meningkatkan distribusi dan memperketat pengawasan di lapangan. Masyarakat juga diimbau untuk tidak melakukan pembelian berlebihan (panic buying) serta menggunakan BBM secara bijak guna menjaga stabilitas pasokan di wilayah tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *