Ekspor Batu Kerikil RI Tembus Rp1,12 Triliun, Singapura Jadi Pasar Utama

JAKARTA, 11 Mei 2026 — Komoditas batu kerikil yang selama ini dianggap sederhana ternyata menjadi salah satu produk ekspor bernilai besar bagi Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, nilai ekspor batu kerikil nasional pada 2025 mencapai US$64,9 juta atau sekitar Rp1,12 triliun.

Kinerja ekspor komoditas bahan galian bukan logam tersebut juga menunjukkan tren peningkatan dalam lima tahun terakhir. Nilai ekspor tercatat naik 17,4 persen menjadi US$64,9 juta pada 2025, sementara volume ekspor meningkat 14,6 persen menjadi 9,2 juta ton.

Batu kerikil selama ini dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan konstruksi, mulai dari material pembangunan jalan, reklamasi pantai, drainase, hingga estetika taman dan lanskap. Tingginya kebutuhan pembangunan infrastruktur di sejumlah negara membuat permintaan batu kerikil Indonesia tetap kuat di pasar internasional.

Dalam laporan tersebut, Singapura menjadi tujuan utama ekspor batu kerikil Indonesia dengan dominasi mencapai 95 persen dari total ekspor nasional. Nilai ekspor ke negara tersebut mencapai US$61,97 juta sepanjang 2025.

Selain Singapura, pasar ekspor batu kerikil Indonesia juga mencakup Korea Selatan, Amerika Serikat, Taiwan, dan Jepang.

Tingginya permintaan dari Singapura dipengaruhi keterbatasan sumber daya mineral dan lahan di negara tersebut. Batu kerikil asal Indonesia banyak digunakan untuk proyek reklamasi wilayah pesisir serta pembangunan infrastruktur perkotaan.

Secara geologi, batu kerikil terbentuk dari proses pelapukan alami batuan besar seperti granit, basalt, dan batu kapur akibat pengaruh cuaca dalam jangka panjang. Selain berasal dari proses alami, batu kerikil juga diproduksi melalui pemecahan batu di kawasan pertambangan untuk memenuhi kebutuhan industri konstruksi.

Stabilnya volume ekspor yang rata-rata berada di atas 8,3 juta ton per tahun menunjukkan komoditas ini masih memiliki daya saing di pasar global. Sektor bahan galian bukan logam pun dinilai tetap menjadi salah satu penopang perdagangan komoditas nasional di luar sektor energi dan logam utama.

Peningkatan ekspor batu kerikil dinilai memberi dampak ekonomi bagi daerah penghasil bahan tambang, terutama dalam mendorong aktivitas industri pengolahan batu, jasa logistik, hingga penyerapan tenaga kerja di sektor konstruksi dan pertambangan.

Di sisi lain, pemerintah juga menghadapi tantangan menjaga keseimbangan antara aktivitas ekspor bahan galian dengan keberlanjutan lingkungan, terutama terkait pengelolaan kawasan tambang dan reklamasi lahan pascatambang.

Ke depan, pemerintah bersama pelaku industri diharapkan memperkuat pengelolaan sumber daya mineral non-logam agar tetap memberikan nilai tambah ekonomi tanpa mengabaikan aspek keberlanjutan dan kelestarian lingkungan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *