Satu Suara Bangsa

Steve Mara Luncurkan Buku Papua Jantung Indonesia, Dorong Ketahanan Pangan Pasifik

Budi Antoni

Editor: Budi Antoni

5 Sep 2026, 11.211 dibaca

Diperbarui: 5 Sep 2026, 11.50

Dokumentasi NASIONAL
Dok. NASIONAL Dokumentasi NASIONAL

JAYAPURA, 5 SEPTEMBER 2026 — Papua tidak boleh lagi hanya dipandang sebagai wilayah di ujung timur Indonesia. Di tengah ancaman krisis pangan global, perubahan iklim dan dinamika geopolitik, Papua justru didorong tampil sebagai salah satu pusat kekuatan baru ketahanan pangan Indonesia sekaligus jembatan strategis menuju kawasan Pasifik. Gagasan besar itu diangkat dalam buku “PAPUA: THE HEART OF INDONESIA–PACIFIC FOOD RESILIENCE” karya Steve Rick Elson Mara, S.H., M.Han., yang resmi diluncurkan dalam kegiatan Launching dan Bedah Buku di Hotel Kempinski, Jakarta Pusat, Jumat (4/9/2026).

Mengusung sub judul “Strengthening Food Security for National Sovereignty ” , buku tersebut kata Steve menawarkan cara pandang baru terhadap Papua. Bukan sekadar wilayah dengan segudang persoalan pembangunan, tetapi sebagai kawasan strategis yang memiliki potensi besar dalam menopang ketahanan pangan, memperkuat kedaulatan nasional dan membuka konektivitas Indonesia dengan negara-negara Pasifik. Steve Mara menegaskan, persoalan pangan tidak bisa lagi dipandang sebatas urusan produksi dan ketersediaan bahan makanan.

Penguatan Peran Generasi Muda dan Masyarakat Adat

Lebih jauh dari itu, pangan menyangkut kemampuan sebuah bangsa menjaga sumber daya strategisnya, menghadapi ancaman gangguan rantai pasok global dan memastikan keberlanjutan kehidupan masyarakat. Sebuah bangsa yang mampu menjaga sumber pangan dan sistem pangannya akan memiliki ruang yang lebih besar untuk menentukan masa depannya sendiri, ” ujar Steve Mara. Pesan itu menjadi semakin relevan ketika dunia menghadapi tekanan perubahan iklim, konflik geopolitik, gangguan distribusi global hingga meningkatnya kebutuhan pangan dunia. Sebagaimana diulas dalam liputan Jayapura Post, langkah strategis ini menjadi tonggak penting dalam mempererat persaudaraan serta mendorong kolaborasi pemuda untuk perdamaian bangsa.

Dalam konteks tersebut, Lanjut Steve Mara Papua dinilai memiliki posisi yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Dengan kekayaan sumber daya alam dan keanekaragaman hayati yang besar, Papua menyimpan potensi strategis di sektor pertanian, perkebunan, kelautan dan perikanan. Namun, menurut Steve, pembangunan pangan di Papua tidak boleh dilakukan dengan pendekatan yang hanya mengejar angka produksi.

Komitmen Menjaga Perdamaian dan Kebudayaan Bangsa

Pembangunan harus berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan, penghormatan terhadap hak masyarakat adat serta pemberdayaan masyarakat lokal. Papua tidak boleh hanya menjadi objek proyek pembangunan. Masyarakat Papua harus menjadi subjek yang menentukan arah pembangunan di atas tanahnya sendiri.

Gagasan tersebut kemudian dirangkai melalui lima pilar utama, yakni pengembangan pertanian berkelanjutan, pengelolaan dan pengembangan perikanan, konservasi lingkungan, pemberdayaan masyarakat dan perlindungan hak-hak masyarakat adat, serta penguatan konektivitas Indonesia dengan kawasan Pasifik. Kelima aspek itu menjadi fondasi dalam membangun sistem pangan yang tidak hanya kuat secara ekonomi, tetapi juga berkelanjutan secara ekologis dan berkeadilan secara sosial. Lebih jauh, buku ini juga menempatkan Papua dalam perspektif geopolitik yang lebih luas.

Langkah Konkret dan Sinergi Pembangunan Daerah

Posisi geografis Papua menjadikan wilayah ini memiliki peran strategis sebagai pintu Indonesia menuju Pasifik. Ketahanan pangan, dalam pandangan Steve Mara, dapat menjadi instrumen diplomasi dan kerja sama baru antara Indonesia dengan negara-negara di kawasan Pasifik. Kerja sama tersebut dapat dibangun melalui pertukaran pengetahuan, pengembangan pertanian dan perikanan berkelanjutan, pemberdayaan masyarakat hingga kolaborasi menghadapi dampak perubahan iklim dan ancaman krisis pangan.

Dengan demikian, pembangunan Papua tidak hanya berbicara tentang kepentingan daerah atau nasional semata, tetapi juga membuka peluang bagi Indonesia untuk mengambil peran lebih besar dalam membangun ketahanan kawasan Indo-Pasifik. Buku ini sekaligus menjadi pesan kuat bagi generasi muda Papua agar tidak terus melihat daerahnya dari sudut pandang keterbelakangan dan persoalan semata. Steve Mara mengajak generasi Papua untuk melihat peluang besar yang ada di depan mata dan mempersiapkan diri menjadi aktor utama dalam menentukan masa depan daerahnya.

Pemberdayaan Berkelanjutan bagi Kesejahteraan Rakyat

“Masa depan Papua tidak boleh hanya dibicarakan oleh orang lain. Generasi Papua harus mempersiapkan diri untuk menjadi bagian dari orang-orang yang menentukan arah masa depan Papua dan Indonesia,” tegasnya. Peluncuran buku “ PAPUA: THE HEART OF INDONESIA–PACIFIC FOOD RESILIENCE ” diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni intelektual semata.

Lebih dari itu, gagasan yang ditawarkan diharapkan dapat mendorong diskusi, kolaborasi dan kebijakan nyata mengenai masa depan Papua. Sebab, membangun ketahanan pangan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak. Pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat adat, masyarakat lokal hingga generasi muda harus berada dalam satu gerak bersama. Dari Papua, gagasan tentang pangan tidak hanya berbicara soal apa yang dimakan hari ini, tetapi tentang siapa yang menentukan masa depan bangsa esok hari.

Menemukan informasi yang perlu diperbaiki?

Sampaikan bukti dan bagian artikel yang dimaksud kepada redaksi.

Lapor Kesalahan

Bacaan Lanjutan

Artikel Terkait

Dokumentasi NASIONAL
NASIONAL6 Sep 2026 · 14.19Oleh Budi Antoni

BMKG Pantau Erupsi Anak Krakatau 24 Jam, Warga Diimbau Tetap Waspada

JAKARTA, 6 SEPTEMBER 2026 — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus melakukan pemantauan selama 24 jam terhadap aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau dan dampaknya terhadap atmosfer, penerban

Baca selengkapnya