Menteri PPN Rachmat Pambudy Tekankan Kolaborasi dan Investasi untuk Akselerasi Transisi Energi Indonesia
Budi Antoni
Editor: Budi Antoni
Diperbarui: 25 Agu 2026, 19.16

JEMBRANA, 25 AGUSTUS 2026 — Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menekankan bahwa percepatan transisi energi Indonesia kini perlu diarahkan pada tahap implementasi yang konkret, mulai dari penyiapan proyek, penguatan skema pembiayaan, hingga peningkatan investasi yang sejalan dengan agenda pembangunan nasional. Penegasan tersebut disampaikan Rachmat dalam sambutannya pada Indonesia Sustainable Energy Week (ISEW) 2026 yang digelar di Jakarta, Rabu (19/8).
Komitmen Pelayanan Publik dan Efisiensi Pembangunan
ISEW 2026 menjadi salah satu wadah strategis bagi penguatan kerja sama energi antara Indonesia dan Jerman. Forum ini mempertemukan pembuat kebijakan, pelaku usaha, pengembang teknologi, serta berbagai pemangku kepentingan untuk mendorong kolaborasi yang berorientasi pada investasi dan realisasi proyek energi berkelanjutan. Menurut Rachmat, keberhasilan transisi energi tidak cukup hanya ditopang oleh arah kebijakan dan perencanaan. Setiap agenda strategis perlu diterjemahkan menjadi proyek yang jelas, didukung pembiayaan yang memadai, serta memberikan kontribusi nyata terhadap sasaran pembangunan Indonesia.
“Tahap berikutnya dari transisi energi Indonesia harus berfokus pada implementasi. Setiap kebijakan energi utama harus memiliki jalur proyek yang jelas. Setiap jalur proyek harus memiliki jalur pembiayaan. Dan setiap investasi harus berkontribusi langsung terhadap prioritas pembangunan nasional kita,” ujar Menteri Rachmat. Saat ini, Indonesia tengah memasuki tahap pertama dalam peta jalan percepatan transisi energi, yakni periode penguatan fondasi hingga 2029. Pada fase ini, pemerintah mendorong pembatasan pembangunan pembangkit listrik tenaga batu bara baru, percepatan pemanfaatan energi terbarukan beserta sistem penyimpanan energi, perluasan jaringan ketenagalistrikan, serta pengalihan subsidi energi fosil ke arah energi yang lebih bersih.
Selain itu, pemerintah juga menyiapkan landasan regulasi untuk pengembangan berbagai sumber energi masa depan, termasuk energi nuklir, hidrogen, dan amonia rendah karbon. Memasuki tahap kedua hingga 2034, agenda transisi energi akan diarahkan pada percepatan transformasi melalui penghentian bertahap pembangkit listrik tenaga batu bara, penerapan teknologi penangkapan karbon pada sektor-sektor yang sulit menurunkan emisi, eksplorasi potensi energi laut, serta pengoperasian pembangkit listrik tenaga nuklir komersial pertama di Indonesia.
Menemukan informasi yang perlu diperbaiki?
Sampaikan bukti dan bagian artikel yang dimaksud kepada redaksi.
Bacaan Lanjutan
Artikel Terkait

Prabowo luncurkan PLTS 100 GWp, tantang tim energi rampung dua tahun
JEMBRANA, 25 AGUSTUS 2026 — Presiden Prabowo Subianto meluncurkan program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp) dengan tahap awal pembangunan 14 PLTS berkapasitas total 5,3

Prabowo targetkan Indonesia stop impor minyak dan LPG dalam tiga tahun
JEMBRANA, 25 AGUSTUS 2026 — Presiden Prabowo Subianto menegaskan Indonesia tidak boleh lagi mengimpor minyak maupun LPG dalam tiga tahun untuk memperkuat kemandirian energi nasional, didukung dengan program pem

Menteri UMKM: Pemerintah pacu realisasi bunga 8 persen PNM Mekaar
JAKARTA, 25 AGUSTUS 2026 — Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman mengatakan pemerintah tengah mempercepat upaya realisasi penurunan bunga menjadi 8 persen bagi nasabah PNM Mekaar. Me
