Padang — Pelibatan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam pelatihan petugas haji 2026 menegaskan keseriusan negara dalam meningkatkan kualitas pelayanan ibadah haji Indonesia. Kolaborasi ini dilakukan oleh Kementerian Haji dan Umroh sebagai bagian dari strategi pembenahan menyeluruh, baik dari sisi kedisiplinan, ketahanan fisik, maupun profesionalisme petugas di lapangan.
Kebijakan ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan bahwa pelayanan haji harus terus mengalami peningkatan kualitas, terutama mengingat karakteristik jemaah Indonesia yang didominasi lanjut usia dan membutuhkan pendampingan intensif.
Arah Pelibatan TNI: Membentuk Petugas yang Disiplin dan Tangguh
Direktur Jenderal Pengendalian Haji dan Umrah, Harun Al Rasyid, menjelaskan bahwa pelatihan oleh TNI diarahkan untuk membangun disiplin kerja, ketahanan fisik, serta mental pengabdian petugas haji. Nilai-nilai tersebut dinilai krusial agar petugas mampu bekerja secara teratur, cepat, dan bertanggung jawab dalam situasi padat dan menantang di Tanah Suci.
Melalui metode pelatihan khas TNI yang terstruktur dan konsisten, petugas haji ditempa agar memiliki daya tahan fisik yang memadai. Kondisi ini penting mengingat tugas pelayanan haji menuntut mobilitas tinggi, jam kerja panjang, serta kesiapsiagaan penuh selama puncak ibadah.
Tujuan Utama: Pelayanan Haji yang Lebih Optimal dan Manusiawi
Tujuan utama pelibatan TNI adalah memastikan petugas haji mampu memberikan pelayanan yang optimal, profesional, dan berorientasi pada kebutuhan jemaah. Dengan fisik yang prima dan kedisiplinan tinggi, petugas diharapkan lebih sigap membantu jemaah lansia, merespons situasi darurat, serta menjaga ketertiban dan kenyamanan selama pelaksanaan ibadah.
Persiapan yang dilakukan jauh lebih panjang dibanding tahun-tahun sebelumnya juga menjadi indikator perbaikan tata kelola pelayanan haji. Pemerintah ingin memastikan setiap petugas benar-benar siap sebelum diberangkatkan, sehingga berbagai catatan evaluasi penyelenggaraan haji sebelumnya dapat diminimalkan.
Sinergi TNI dan Kementerian, Cerminan Negara Hadir untuk Umat
Sebanyak 90 petugas haji dari Sumatra Barat dan Bengkulu telah memulai pelatihan ini, yang melibatkan Ketua Kloter, Pembimbing Ibadah, Tenaga Kesehatan, hingga Petugas Haji Daerah. Kepala Kanwil Kementerian Haji dan Umroh Sumatra Barat, M Rifki, menegaskan pentingnya keseriusan peserta dalam mengikuti seluruh rangkaian pembinaan.
Kehadiran TNI dalam proses pelatihan tidak dimaknai sebagai pendekatan militeristik, melainkan sebagai upaya transfer nilai disiplin, ketangguhan, dan kepemimpinan. Sinergi ini menunjukkan bahwa TNI berperan aktif mendukung pelayanan publik strategis demi kepentingan umat.
Kesimpulan
Pelatihan petugas haji 2026 oleh TNI memiliki arah yang jelas dan tujuan yang terukur, yakni menciptakan petugas yang disiplin, bugar, dan profesional agar pelayanan jemaah haji Indonesia semakin optimal. Kolaborasi ini menjadi bukti nyata kehadiran negara dalam memastikan ibadah haji berjalan tertib, aman, dan manusiawi, sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap sistem pelayanan haji nasional.
